Testimoni

Kota Kecilku Ternyata Sudah Terambah Shabu

Foto: Ilustrasi

Aku seorang ibu paruh baya yang memiliki dua anak lelaki yang sudah dewasa. Sehari-hari aku mencari nafkah dengan menyanyi dari satu hajatan ke hajatan lain di kota kecil tempat tinggalku.

Uang yang aku dapatkan dengan susah payah aku gunakan untuk membiayai kuliah anak-anakku. Aku bangga karena mereka selama ini berprestasi walau kami hidup sederhana.

Sepekan terakhir ini ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku sebagai seorang ibu. Tino anak pertamaku yang sedang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama delapan orang temannya, mengadukan bahwa enam orang kawannya terlibat pemakaian shabu selama masa KKN.

Aku terkejut bukan kepalang. Tidak menyangka bahwa di kota kecil seperti tempat tinggalku ternyata sudah terjamah peredaran shabu.

Suara Tino yang cemas masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku mengkhawatirkan keadaan anakku itu. Ia tidak dapat berkonsentrasi dalam KKN karena takut perilaku kawan-kawannya itu akan tercium polisi.

Terus terang aku panik dan tidak paham harus melakukan apa. Untunglah aku mendapatkan kontak sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kota S yang selama ini bergerak mengadvokasi para pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA).

Kepada salah seorang staf LSM tersebut, aku berkonsultasi agar aku mendapatkan titik terang untuk membimbing Tino anak lelakiku agar tidak terjebak arus dan terlalu jauh mengikuti teman-temannya.

Aku bersyukur Tino sangat terbuka padaku sebagai ibunya. Sementara hal yang sama belum tentu dilakukan anak-anak lain kepada ibunya. Aku yakin tidak semua anak memutuskan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya bila mengalami masalah yang seperti dihadapi Tino.

Aku berharap Tino mampu memutuskan mana yang terbaik untuk dirinya sebagai mahasiswa salah satu akademi keperawatan, dan tetap berbagi setiap masalah hidupnya padaku sebagai orangtua yang melahirkannya.(Yan/YS/Gen)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *