Berita Internasional Kegiatan

Konferensi Internasional Pengurangan Dampak Buruk Napza Dibuka Di Beirut

Beirut – Konferensi Harm Reduction Internasional ke-22 yang diselenggarakan di Beirut, dibuka pada Minggu (3/4) pukul 16.20 waktu setempat. Konferensi dihadiri ratusan aktivis dari organisasi kebijakan napza, aktivis komunitas pengguna napza, dan perwakilan pemerintah terkait kebijakan napza dari seluruh dunia.

Konferensi dibuka secara resmi oleh Rick Lines, Direktur Eksekutif International Harm Reduction Association (IHRA) di Habtoor Grand Hotel Convention Centre & Spa Minggu (3/4) petang.  Jude Byrne, Ketua International Network of People who Use Drugs (INPUD) ikut membuka acara tersebut.

Program Harm Reduction atau “Pengurangan Dampak Buruk Napza” telah diinisiasi di Bali sejak 1999, dengan disediakannya layanan alat suntik steril di Yayasan Hati-Hati Bali.

Sampai dengan 2006, pengguna napza suntik menyumbangkan angka signifikan, yaitu sekitar 48-50% pada proporsi faktor penyebaran HIV di Indonesia, sebagai negara berpenduduk terpadat keempat di dunia.

Respon pemerintah Indonesia terhadap epidemi AIDS terhambat oleh kriminalisasi penggunaan jarum suntik steril, kriminalisasi sebagian jenis napza, serta resistensi beberapa komponen pemerintah dalam menyikapi regulasi napza terkini.

Pengguna napza suntik merupakan kelompok marjinal yang belum diterima keberadaannya sebagai warga negara yang membutuhkan rawatan kesehatan.

Pada 2009, 281 pusat layanan alat suntik steril dan 54 pusat layanan substitusi opiat telah berdiri di 16 provinsi di Indonesia. Dan pada tahun yang sama, UU Narkotika 35/2009 disahkan. UU baru ini mulai memperhatikan aspek hak asasi manusia dalam pasal-pasalnya, dengan memperhatikan peluang para pecandu napza untuk mendapatkan perawatan, rehabilitasi dan perlindungan dari pemenjaraan.

Dilaporkan adanya penurunan infeksi HIV pada pengguna napza suntik, dari 1517 orang pada 2006 menjadi 1156 orang pada 2009. Prevalensi HIV pada pengguna napza suntik juga menunjukkan penurunan, dari 48-50% pada 2006 menjadi 39-42% pada 2009.

Pengalaman keberhasilan Indonesia dalam implementasi program Harm Reduction akan dipresentasikan oleh Dr Kemal Siregar, Deputi Pengembangan Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional pada Senin (4/4) pukul 10.00 waktu setempat.(YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *