Advokasi Aktivitas Berita Berita Lembaga Berita Nasional HIV/AIDS Kebijakan Kebijakan Nasional Kegiatan

Komunitas Terdampak HIV Rekomendasikan Kemenkes Teliti Khasiat Ganja untuk ODHA

Ilustrasi : Daun Ganja
Ilustrasi : Daun Ganja

Makassar – Kementerian Kesehatan RI diminta untuk segera mengeluarkan izin penelitian khasiat ganja untuk meningkatkan kualitas hidup orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Demikian salah satu rekomendasi yang dihasilkan Forum Populasi Kunci (populasi yang berisiko tinggi tertular HIV) pada Pertemuan Nasional AIDS 5 di Makassar. Pertemuan berlangsung pada 26 Oktober – 29 Oktober 2015.

Penelitian khasiat ganja dinilai sangat mendesak oleh Yayasan Sativa Nusantara (YSN) dan Lingkar Ganja Nusantara (LGN) karena dua hal, yaitu: sudah ada pengalaman beberapa ODHA yang merasakan khasiat ganja dan juga bukti-bukti ilmiah khasiat ganja dalam meningkatkan kualitas hidup ODHA.

Ketua Lingkar Ganja Nusantara (LGN), Dhira Narayana pada Rabu (28/10) menyatakan, “Selama 4 tahun terakhir, kami mengumpulkan pengalaman beberapa ODHA yang merasakan khasiat ganja sebagai perangsang nafsu makan, dan peredam rasa mual. Namun karena alasan hukum, mereka menolak data dirinya dipublikasikan. Berita baiknya adalah mereka siap untuk menjadi narasumber, apabila ada penelitian yang dilakukan secara legal oleh Kementerian Kesehatan RI dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional”.

Pada awalnya rekomendasi ini menimbulkan pro dan kontra dalam forum diskusi. Kerancuan tersebut terjadi karena informasi tentang khasiat ganja untuk ODHA belum dipahami secara utuh. Beberapa peserta forum sempat menganggap penelitian ini akan diarahkan untuk menggantikan obat anti retroviral(ARV).

Setelah dibedah lebih dalam, anggota forum diskusi dapat memahami bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan khasiat ganja sebagai pelengkap ARV.

Studi Ilmiah Ganja-ODHA

Tramer (2001) dalam British Medical Journal menyatakan bahwa kemampuan cannabinoid dalam mengobati rasa mual telah dikenal lama, cannabinoid yang diresepkan (Dronabinol & Nabilone) telah disahkan sebagai pengobatan untuk mual-mual, dan juga untuk pengobatan kemoterapi.

Beal dan kolega (1995) dalam Journal of Pain and Symptom Management melakukan studi terhadap 88 ODHA yang mengalami anoreksia dan kehilangan berat badan. Hasil menunjukan bahwa berat badan ODHA yang mengkonsumsi Dronabinol adalah stabil, sedangkan pada ODHA yang mengkonsumsi plasebo terjadi kehilangan sampai dengan 0,4 kg berat badan. Namun, tetap ada efek samping Dronabinol dalam takaran ringan (euforia, pusing, dan halusinasi).

Pada 1997, Beal melakukan studi efek jangka panjang tetrahydrocannabinol (THC) pada ODHA yang diberikan Dronabinol sebanyak 2,5 mg sekali- dua kali sehari. THC disuntikan untuk meningkatkan nafsu makan. Pasien-pasien tersebut menunjukan kecenderungan berat badan yang stabil selama kurang lebih 7 bulan

Untuk membuktikan hubungan ganja dengan nafsu makan, E. DeJesus (2007) dalam Journal of the International Association of Physicians in AIDS Care menunjukan bahwa konsumsi THC secara oral meningkatkan nafsu makan ODHA responden, sementara ODHA responden yang tidak mengkonsumsi THC mengalami penurunan berat badan.

Dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes, Haney (2007) menemukan bahwa menghisap ganja (1,8% dan 3,9% THC) dan THC (5 dan 10 gram) yang diberikan 4 kali sehari secara acak dapat mengendalikan efek asupan makanan.

Dari beberapa penelitian di atas, didapati bahwa ganja maupun cannabinoid berperan penting dalam menunjang proses terapi ODHA. Namun tantangan yang dihadapi tidaklah mudah karena akses penelitian ganja untuk ODHA masih tertutup.

Inang Winarso, Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara, menegaskan, “Penelitian tentang manfaat ganja bagi kesehatan sudah banyak dilakukan para pakar di dunia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka. Sayangnya, para ahli Indonesia belum mendapat kesempatan untuk meneliti ganja.”. Karenanya, Inang mengharapkan pemerintah Indonesia dapat segera membentuk tim penelitian untuk mengkaji manfaat ganja dan juga tanaman lain yang tumbuh subur di Indonesia bagi kesehatan. (DN/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *