Berita Lembaga

Komunitas Pecandu Bicara Napza di Bulan Puasa

Bicara NAPZA di Bulan Puasa

Semarang – Lembaga Pelopor Perubahan bekerjasama dengan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menyelenggarakan diskusi bertajuk Bicara NAPZA di Bulan Puasa pada Selasa (14/1)  sore. Diskusi yang digelar di Entertainment Plaza di kawasan Simpang Lima Semarang ini menghadirkan tiga narasumber.

Tiga narasumber merupakan praktisi masalah NAPZA di kota Semarang, yaitu drg. Rajendra Mada, Kepala Puskesmas Poncol; Kahar Muamalsyah, Ketua Persatuan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Jawa Tengah serta Tony Hendriyanto, Petugas Penjangkau Komunitas Pengguna NAPZA dari Lembaga Pelopor Perubahan.

Para tamu undangan berasal dari institusi kesehatan di Kota Semarang seperti Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Kota Semarang, Komisi Penanggulangan AIDS Kota Provinsi Jawa Tengah serta para staf Rumah Sakit dan Puskesmas di wilayah kota Semarang, yang selama ini terlibat langsung dalam penyediaan layanan kesehatan bagi pecandu NAPZA di kota Semarang.

Diskusi membahas perkembangan penyediaan layanan kesehatan bagi pecandu NAPZA yang hingga saat ini difokuskan pada layanan jarum suntik steril (LJSS) dan program terapi rumatan metadon (PTRM). LJSS disediakan di 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Poncol, Puskesmas Pegandan, Puskesmas Srondol dan Puskesmas Padangsari Semarang. Sedangkan layanan metadon tersedia RSUD Dr. Kariadi dan Puskemas Poncol Semarang.

Komunitas pecandu di kota Semarang mengeluhkan minimnya layanan kesehatan bagi pecandu NAPZA non heroin. Sedangkan trend NAPZA di kota Semarang sendiri didominasi oleh penggunaan ganja, benzodiazepin dan shabu. drg. Rajendra mewakili Puskesmas Poncol sebagai penyedial layanan kesehatan mengakui kesenjangan yang terjadi, bahwa subsitusi NAPZA yang tersedia memang hanya untuk pecandu heroin. Sementara ini yang dilakukan Puskesmas Poncol adalah merujuk pada RSUD Dr. Kariadi saat pasien pecandu NAPZA berkonsultasi untuk masalah penggunaan NAPZA non heroin.

Dalam forum diskusi terangkat pula keresahan komunitas pengguna ganja akan perlunya pembahasan masalah regulasi penggunaan ganja di Indonesia. Kriminalisasi penggunaan ganja dirasakan telah banyak merugikan masyarakat dibandingkan dengan manfaatnya.(YS)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *