Advokasi Aktivitas Berita Berita Lembaga Berita Nasional

Komunitas Masyarakat Anti Oplosan Desak Pemerintah Menginisiasi Penelitian Alkohol

Ilustrasi: Miras

Makassar – Salah satu rekomendasi Forum Diskusi “Pengurangan Dampak Buruk Penyalahgunaan Minuman Beralkohol” yang digelar pada Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS V di Makassar pada 26 – 29 Oktober 2015 adalah agar Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan institusi yang berkaitan menginisiasi studi-studi saintifik mengenai tingkat penggunaan alkohol oplosan serta dampaknya, karena hal ini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi.

Rudhy Wedhasmara, Ketua Komunitas Masyarakat Anti Oplosan mengungkapkan, “Tidak adanya data resmi pemerintah mengakibatkan pihak-pihak seperti Gerakan Anti Miras, merilis besaran korban meninggal karena konsumsi alkohol sebesar 18.000 jiwa/tahun, tanpa ada bukti empiris sumber data tersebut. Sedangkan Kementerian Kesehatan RI hanya menyebutkan bahwa konsumsi minuman beralkohol di Indonesia adalah rendah.

“Sudah banyak korban jiwa akibat oplosan, akan tetapi hingga kini Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan institusi yang berkaitan lainnya belum memiliki data korban dan penyebab kematian korban, “ ungkap Rudhy pada Rabu (28/10) “Data yang bisa dipertanggungjawabkan sangatlah penting, karena menyangkut tindak lanjut kebijakan tepat sasaran. Perlu diingat, masalah miras oplosan ini menyangkut nyawa manusia, “ imbuhnya.

Rudhy mengatakan Forum Diskusi Pernas juga mendesak agar kementerian Kesehatan membuat standarisasi penanganan dan penyelamatan medis korban oplosan di Puskesmas dan Rumah Sakit di seluruh Indonesia.

Pernas AIDS V dihadiri oleh 1.000 peserta yang berasal dari organisasi yang bergerak di bidang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan yang membahas strategi dan kerjasama penanganan AIDS di Indonesia ini mengusung tema “Saatnya Semua Bertindak”.

Sementara pada 6 Februari 2014 lalu, Adhi Wibowo Nurhidayat dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta menyatakan dalam International NGO Summit On The Prevention of Drugs and Substance Abuse di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bahwa alkohol sering dianaktirikan di Indonesia, sehingga perlu dibentuk lembaga khusus yang mengatur peredaran dan penggunaan alkohol.

Adhi menekankan, tidak ada data spesifik mengenai konsumsi alkohol di Kementerian Kesehatan. “Kemenkes juga belum menyertakan pertanyaan penggunaan alkohol dalam Riset Kesehatan Dasar,” jelas Adhi.(YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *