Advokasi

Khawatir Harga ARV Melambung Tinggi, Ratusan Aktivis HIV/AIDS Turun ke Jalan

ARV Demo 1Jakarta – Sedikitnya seratus orang dari kelompok aktivis HIV/AIDS, Minggu (16/5) siang menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Kelompok yang menamakan dirinya Gerakan Lisensi ARV (GELAR) menuntut pemerintah untuk perpanjangan lisensi pengadaan obat anti-retroviral (ARV) yang masa berlakunya akan habis mulai 2011 mendatang.

Kepada NapzaIndonesia.com, Koordinator Aksi GELAR, Aditya Wardana mengatakan bahwa lisensi wajib yang dimiliki Indonesia akan berakhir dalam satu hingga tiga tahun kedepan.

“Lisensi untuk jenis ARV Nevirapine akan berakhir pada 2011, ARV jenis Lamivudine akan berakhir 2012 dan ARV jenis Efavirenz akan berakhir 2013. Bila lisensi wajib ini tidak diperpanjang pemerintah Indonesia, maka Indonesia akan menemui kesulitan, baik dalam memproduksi ARV maupun mengimpor ARV generik,” papar Aditya Wardana.

ARV adalah obat yang harus dikonsumsi secara teratur oleh orang yang terdampak HIV/AIDS didalam mempertahankan kualitas hidup mereka. Dunia medis modern percaya jika ARV dapat menahan laju penggandaan virus HIV dalam tubuh orang yang terdampak HIV/AIDS.

Di Indonesia ARV generik dapat diperoleh dengan mudah karena sebagian sudah diproduksi oleh pabrik farmasi dalam negeri dan sebagian lagi masih diimpor dari India.

Penderita HIV/AIDS di Indonesia dapat memperoleh ARV secara cuma cuma karena masih disubsidi pemerintah serta mendapat dukungan dana bantuan asing untuk membeli lisensi ARV. Bila lisensi tersebut habis pada waktunya, diprediksi harga ARV akan melambung tinggi.

“Aturan mengenai perdagangan bebas internasional juga akan menjadi hambatan bagi Indonesia dalam memproduksi dan mengimport ARV generik bila payung hukum tidak tersedia,” imbuh Aditya Wardhana.

Karenanya, GELAR mendesak pemerintah agar segera mensahkan RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) Lisensi Wajib yang menjadi produk hukum turunan Undang-Undang No 14 tentang Paten tahun 2001.

Untuk diketahui, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 280.000 orang. Dari jumlah ini, baru 18.000 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mengkonsumsi ARV generik di Indonesia. (YS/Gen)