Berita Berita Internasional Riset

Ketamin: Menunggu Pengakuan sebagai Antidepresan Aksi Cepat

Ketamin

Bethesda – Ketamin populer sebagai anestesi yang sering digunakan dokter hewan, tetapi studi terbaru menunjukkan masa depan ketamin sebagai antidepresan potensial.

Ketamin menimbulkan halusinasi, perasaan berada di luar tubuh, disorientasi dan bahkan amnesia yang bisa bertahan beberapa jam, yang membuatnya tidak hanya digunakan di klinik hewan, tetapi juga di klub malam, sebagai NAPZA rekreasional.

Dalam ulasan penelitian yang dipublikasikan Oktober 2012 lalu di jurnal Science, para peneliti menyebutkan hubungan yang semakin jelas antara ketamin dan terapi depresi. Temuan ini disebut-sebut sebagai “kemajuan yang paling penting dalam bidang penelitian depresi” selama 50 tahun terakhir.

Saat ini para ilmuwan melaporkan temuan dua formulasi obat dengan cara kerja mirip ketamin, tapi dimodifikasi dengan menghilangkan efek menghambat kesadaran. Hal ini dapat menyumbangkan kemajuan pada penelitian terapi depresi.

Penggunaan Prozac dan metode lain untuk menstabilkan suasana hati, termasuk terapi bicara, memakan hitungan minggu, bukan jam, sebelum menunjukkan manfaat. Sebuah antidepresan aksi cepat, seperti obat berbahan dasar ketamin yang saat ini dikembangkan, berpotensi menyelamatkan nyawa mereka yang hidup dengan depresi. Karena selama pasien menunggu obat bereaksi, masa ini berisiko tinggi terjadinya bunuh diri.

Pada akhir November 2012, hasil uji coba terkontrol acak pertama dari obat bersifat seperti ketamin, yaitu AZD6765 (diproduksi oleh AstraZeneca), diterbitkan di Biological Psychiatry. Penelitian yang didanai oleh Institut Nasional Kesehatan Mental (National Institute of Mental Health), melibatkan 22 pasien dengan depresi yang telah gagal merespon pengobatan lain.

Diantara pasien yang secara acak mengkonsumsi AZD6765, 32% menunjukkan  perbaikan suasana hati, biasanya dalam waktu satu jam, dibandingkan dengan responden yang mengkonsumsi plasebo, hanya 15% menunjukkan perbaikan suasana hati. Secara keseluruhan, 18% dari pasien yang mengkonsumsi AZD6765 mencapai penurunan gejala depresi secara lengkap, yang berlangsung dua hari saat menggunakan obat. Sementara  10% yang mengkonsumsi plasebo tidak mengalami perubahan apapun.

Obat baru tiruan ketamin ini tidak memiliki efek samping yang signifikan, tetapi tidak seefektif ketamin itu sendiri. “Efek antidepresan AZD6765 tidak begitu kuat atau berkelanjutan seperti yang diamati dalam studi kami sebelumnya dengan ketamin,” ungkap para peneliti. Dengan ketamin, 71% dari pasien menunjukkan respon positif yang signifikan dalam tempo satu hari setelah mengkonsumsi obat.

Efek ini lebih dari dua kali lipat cepatnya dari efek terapi AZD6765. Efek antidepresan ketamin berlangsung selama seminggu, bukan hanya dua hari seperti AZD6765.

Meskipun memiliki kinerja yang lemah, AZD6765 memang memiliki kelebihan dibandingkan ketamin. AZD6765 tidak mengganggu kesadaran, sehingga masih bisa dibuktikan sebagai obat yang bermanfaat. “Penelitian selanjutnya dengan senyawa ini akan didasarkan atas sinyal antidepresan positif, terutama penelitian yang mengeksplorasi keberhasilan dan tolerabilitas terkait dengan dosis yang lebih tinggi atau berulang,” demikian kesimpulan para peneliti.

Data awal tentang antidepresan lain yang memiliki kinerja mirip ketamin, GLYX-13, juga dipresentasikan pada pertemuan American College of Neuropsychopharmacology, Desember 2012 lalu. Sebuah tes keselamatan dilakukan pada 116 orang dengan depresi yang tak merespon pada pengobatan depresi konvensional. Ditemukan fakta bahwa menemukan bahwa GLYX-13 tidak merusak kesadaran, memiliki efek samping yang minimal dan mampu mengurangi gejala depresi hingga dua minggu. Namun, karena percobaan ini dirancang untuk menguji keamanan obat, dampaknya tidak dibandingkan dengan plasebo.

Dengan bukti-bukti yang menunjukkan hubungan antara perbaikan suasana hati dengan penggunaan ketamin, dan dengan kedua senyawa mirip ketamin yang masih berada dalam penelitian, beberapa dokter yang mulai menawarkan ketamin untuk pasien depresi yang tidak merespon pengobatan lain. Karena ketamin disetujui Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan sebagai obat bius, dokter dapat memberikan obat tanpa label untuk pasien, selama dokter menginformasikan pada pasien bahwa obat belum diuji untuk digunakan sebagai antidepresan.

Dr James Murrough, asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine di Mount Sinai sedang melakukan uji klinis ketamin sebagai pengobatan untuk depresi, namun ia masih enggan untuk meresepkan ketamin di luar penelitian.

“Saya senang karena ketamin memiliki potensi, tapi saat ini belum sepenuhnya siap,” katanya. Jika penelitian mendukung akan keamanan dan efektivitas ketamin atau senyawa mirip ketamin untuk mengobati depresi, maka ini bisa menjadi terapi andalan dunia psikiatri dalam penanganan cepat gejala gangguan suasana hati, sebelum menyebabkan gejala yang lebih serius seperti bunuh diri.(Tm/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *