Advokasi Kebijakan Nasional

Kerahasiaan Kartu Identitas Pasien Dijamin Institusi Kesehatan

Semarang – Diskusi mengenai rencana pembuatan kartu identitas bagi pengguna narkotika, pskikotropika dan zat adiktif (Napza) di wilayah kota Semarang, Jumat siang (11/3), berlangsung di aula Puskesmas Srondol Semarang.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh dr. Suzanna Dewi Ratih, Kepala Puskesmas Srondol ini dihadiri oleh  beberapa orang pengguna napza di kota Semarang serta petugas penjangkau program pengurangan dampak buruk penggunaan napza suntik atau harm reduction dari Lembaga Pelopor Perubahan.

“Untuk pengguna napza yang ingin mendaftarkan diri untuk membuat kartu identitas pasien di klinik harm reduction Puskesmas Srondol tidak harus pengguna napza suntik,” ujar dr. Suzanna pada Napzaindonesia.com

Kartu identitas pasien terus menerus menjadi perdebatan di kalangan pengguna napza. Ada pihak yang setuju, ada juga yang merasa keberatan. Dikhawatirkan bahwa data dari kartu identitas yang dikeluarkan bersama oleh Puskesmas dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang tersebut akan ditembuskan ke pihak kepolisian.

“Ada etika mengenai kerahasiaan data pasien. Pihak layanan kesehatan tidak bisa dengan mudah memberikan data pasien pada pihak lain,” jelas dr. Suzanna menjawab kekhawatiran para pengguna napza dalam diskusi.

Suzanna menambahkan bahwa layanan klinik harm reduction yang tersedia di Puskesmas Srondol selain layanan alat suntik steril (LASS) adalah layanan kesehatan dasar, konseling VCT dan  konseling adiksi bagi pengguna napza secara umum, bukan hanya pengguna napza suntik.

Beberapa pengguna napza yang hadir langsung mengakses fasilitas layanan kesehatan dasar setelah pertemuan berakhir.(IH)