Berita Internasional Hukum Kebijakan Mancanegara

Kepolisian Filipina Tembak Mati Tiga Tersangka Kasus Napza

Manila – Tiga tersangka kasus napza mati tertembak dalam sebuah penyergapan bersenjata oleh Kepolisian Filipina, ini merupakan kasus terbaru pasca terpilihnya Rodrigo Duterte, seorang figur anti kriminalitas garis keras sebagai Presiden.

Sejumlah besar penembakan atas pelaku kriminal yang dilakukan Kepolisian Filipina akhir-akhir ini telah menimbulkan ketakutan akan meledaknya upaya-upaya ekstra yudisial di negara tersebut pasca Duterte bersumpah akan menekan angka kriminalitas dengan segala cara bila diperlukan.

Pihak Kepolisian Filipina menerima panggilan untuk memeriksa rumah tersangka pengedar napza di sebuah pulau kecil, Banacon di Filipina bagian tengah, menjelang fajar pada hari Sabtu (28/5), ketika pecah tembak-menembak antara tersangka dan pihak kepolisian, yang berakhir dengan seorang tersangka dan tiga rekannya mengalami cedera.

Tersangka pengedar napza berinisial RS dan dua orang lainnya yang tidak dikenal, diumumkan meninggal dunia setelah dibawa ke Rumah sakit, sementara orang keempat dirawat di rumah sakit karena luka tembak, demikian keterangan Roel Lagora, anggota kepolisian setempat kepada AFP.

“Sekumpulan pria bersenjata menembaki tim penyergap beberapa kali, yang memicu pihak kepolisian untuk mempertahankan diri dan membalas menembak,” tutur Lagora kepada AFP melalui percakapan telefon, membacakan laporan resmi insiden tersebut kepada wartawan.

Kepolisian Filipina telah menembak 12 tersangka kasus napza lainnya dari berbagai wilayah di Filipina minggu lalu, ketika seorang bersenjata tak dikenal membunuh dua pria lainnya yang menurut kepolisian memiliki kaitan dengan kasus napza ilegal.

Duterte telah memberi pengumuman bahwa kekuatan bersenjata akan memusnahkan ribuan pelaku kriminal dan akan menafikan hak asasi manusia, ini merupakan bagian dari kampanye pemusnahan peredaran napza yang merupakan kepedulian utama para pemilik suara dalam pemilu.

Calon walikota mendatang, yang juga menjabat walikota Davao saat ini, telah dituduh melindungi pasukan pembunuh berbasis masyarakat sipil yang telah mengambil nyawa lebih dari seribu orang di Davao, diantaranya lebih dari 100 anak-anak.

Kelompok-kelompok pemerhati hak-hak sipil mengkritik Duterte atas ancaman yang dilemparkannya, mereka menganggap metode-metode yang digagas Duterte adalah ilegal dan inkonstitusional.

Kepolisian telah menyangkal dugaan bahwa mereka melaksanakan janji-janji kampanye Duterte, bahkan sebelum Duterte dilantik pada 30 Juni mendatang. Kepolisian Filipina bersikeras awal bulan ini bahwa delapan tersangka terbunuh dalam upaya polisi membela diri.

Banacon terletak sekitar 20 kilometer dari pantai Cebu, kota kedua terbesar setelah ibukota Filipina, Manila.

Walikota Cebu yang baru terpilih, Tomas Osmena, memberikan keterangan pada AFP, awal bulan ini bahwa ia akan memberikan penghargaan pada polisi sebesar 50.000 peso (sekitar 14 juta rupiah) untuk setiap pelaku kriminal yang mereka bunuh, dan 5.000 peso (sekitar 1,4 juta rupiah) untuk setiap pelaku kriminal yang dilukai.

AFP tidak dapat menghubungi Osmena untuk mendapatkan komentar pada Minggu pagi (29/5), tetapi Osmena menggambarkan kronologi penyergapan RS melalui laman Facebook-nya. Osmena menjuluki RS sebagai “bandar napza terbesar” di dua distrik di Cebu.

“Operasi ini hanya satu dari empat operasi yang akan dilancarkan pada akhir minggu ini, Akan melaporkan hasil operasi lainnya besok,” demikian keterangan Osmena (AFP/Yvonne Sibuea)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *