Berita Berita Internasional Riset

Kemudahan Transaksi Online Picu Peningkatan Konsumsi Obat-Obatan Farmasi

Obat Resep

Los Angeles – Akses pembelian online ditengarai menjadi salah satu faktor utama peningkatan penyalahgunaan terhadap obat-obatan keluaran perusahaan farmasi di Amerika Serikat.

Jenis-jenis obat yang paling laris terjual online adalah pereda nyeri tingkat tinggi seperti Percocet dan Oxycontin yang merupakan golongan opiat sintetis. Fakta ini terungkap melalui sebuah penelitian yang baru dirilis Health Affairs.

Perusahaan farmasi penyedia obat-obatan tersebut biasanya berlokasi diluar AS, kebanyakan diantaranya tidak mematuhi regulasi AS atas obat-obatan resep dokter.

Peneliti dari Massachusetts General Hospital and the University of Southern California mendapati bahwa, dalam periode 7 tahun, yaitu dari tahun 2000 ke 2007, negara bagian yang memiliki ekspansi terbesar koneksi internet kecepatan tinggi juga mengalami peningkatan pasien penderita adiksi obat-obatan resep dokter.

Penemuan ini dirilis pada Kamis (12/5) oleh jurnal kesehatan Health Affairs, dan akan muncul pada terbitan edisi Juni 2011.

“Penemuan kami menunjukkan bahwa pertumbuhan akses internet dapat menjelaskan sebagian sebat peningkatan penyalahgunaan obat-obatan resep dokter, karena kita semua tahu obat-obatan ini mudah didapatkan lewat internet,” ungkap Dana Goldman, Direktur Schaeffer Center for Health Policy and Economics di University of Southern California.

Obat-obatan resep dokter secara cepat telah menggantikan penggunaan NAPZA ilegal di tempat-tempat seperti kampus, imbuh Goldman.

Goldman dan Anupam Jena, dari Massachusetts General Hospital – Department of Medicine, menekankan bahwa peningkatan penyalahgunaan  narkotika pereda nyeri resep dokter berhubungan langsung dengan peningkatan perusahaan-perusahaan farmasi online.

Obat-obatan yang seringkali disalahgunakan diantaranya: pereda nyeri, sedatif, stimulant, dan tranquilizer, kebanyakan perusahaan farmasi online tersebut berlokasi di luar AS.

Kedua peneliti, Goldman dan Jena, membandingkan data yang tersedia online dari Komisi Komunikasi Federal AS dengan jumlah pasien baru penderita adiksi obat-obatan resep dokter yang mendaftar di panti-panti rehabilitasi ketergantungan NAPZA di AS.

Perubahan yang terjadi antara tahun 2000 – 2007 dianalisa per negara bagian, dan jumlah pasien baru yang terdaftar di panti rehabilitasi dikategorikan berdasarkan tipe adiksi NAPZA yang dialami pasien.

Setiap 10 % peningkatan akses internet kecepatan tinggi di sebuah negara bagian, berkorelasi dengan 1 % peningkatan jumlah pasien baru penderita adiksi obat-obatan resep dokter, demikian penemuan para peneliti.

Dalam periode yang sama, jumlah pasien baru penderita adiksi heroin atau kokain; obat-obatan yang tidak tersedia di internet, serta alkohol, mengalami peningkatan yang sangat kecil atau justru mengalami penurunan.

“Minimnya peningkatan penyalahgunaan NAPZA ilegal yang tidak ditawarkan via internet menunjukkan bahwa pertumbuhan perilaku menggunakan NAPZA tidak berhubungan dengan peningkatan penggunaan obat-obatan resep dokter,” demikian pernyataan Jena.

Peraturan Perlindungan Konsumen Perusahaan Farmasi AS yang berlaku pada 2009 melarang jual beli substansi terkontrol yang tidak diresepkan langsung oleh dokter. Food and Drug Administration (FDA) telah mengeluarkan peringatan pada lebih 100 perusahaan farmasi online yang melakukan pelanggaran. Dampak peringatan FDA tersebut sampai saat ini belum diketahui, ungkap Jena.(hft/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *