Advokasi

Kasus Penculikan Empat Aktivis SPENA Ditindaklanjuti Ditnarkoba Polda Jawa Tengah

Foto002
Foto: napzaindonesia

Semarang Empat korban penculikan yang dilakukan oknum Ditnarkoba Polda Jawa Tengah, pada 8 Februari 2010 lalu menerima panggilan dari Ditnarkoba Polda Jawa Tengah untuk didengar keterangannya sebagai saksi dalam Sidang Disiplin perkara Pelanggaran Disiplin Anggota Polri.

Surat panggilan bernomor: SPG/21/X/2010 bertanggal 4 Oktober 2010 tersebut diterima  6 Oktober 2010 oleh para pelapor.

Kasus penculikan yang dilakukan oknum perwira dan bintara Ditnarkoba POLDA Jateng ini dilaporkan keempat aktivis UKM Sahabat Pengguna NAPZA (SPENA) IKIP PGRI Semarang kepada Ditpropam Polda Jateng pada 12 Februari 2010.

Saat melaporkan kasus yang menimpa mereka delapan bulan silam, para korban penculikan yaitu ZF, HTK, MT dan EBS didampingi penasehat hukum dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Wilayah Jawa Tengah.

Kepada pihak Ditpropam Polda Jawa Tengah mereka mengadukan perbuatan sewenang-wenang anggota Ditnarkoba Polda Jateng atas nama Kompol Hanafi, Briptu Purwanto, Briptu Taufan, dan Brigadir Wibowo.

Menyikapi pemanggilan ini, Abdul Fani, Koordinator Paralegal PERFORMA-Kelompok Advokasi Kebijakan NAPZA yang mendampingi para pelapor menyatakan bahwa pihaknya menyesalkan lambannya kinerja aparat kepolisian dalam menyikapi kasus penculikan para aktivis mahasiswa ini.

“Kami menyesalkan lambannya kinerja pihak kepolisian dalam menyikapi persoalan penculikan para aktivis mahasiswa yang menjadi mitra Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Tengah ini. Masa setelah delapan bulan berjalan kasus ini baru ditindaklanjuti,” ungkap Abdul Fani yang ditemui NapzaIndonesia.com, Kamis (7/10).

Selain itu, Abdul Fani juga melihat ada dua hal yang janggal dalam penanganan kasus ini, pertama surat panggilan untuk menjadi saksi persidangan Jumat (8/10) besok justru dikirimkan oleh Ditnarkoba Polda Jateng dan bukan dikirimkan oleh Ditpropam POLDA Jateng, tempat dimana mereka mengadukan kasus mereka.

Kejanggalan kedua adalah lembar surat pemanggilan tersebut tidak diberikan tembusan kepada PBHI sebagai penasehat hukum korban.

Untuk diketahui SPENA adalah Sahabat Peduli NAPZA, sebuah lembaga Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) di IKIP PGRI Semarang yang menjadi mitra BNP Jawa Tengah dalam memberikan penyuluhan tentang pengurangan dampak buruk dan bahaya narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa di Semarang, Jawa Tengah.

Pada 8 Februari 2010, enam mahasiswa yang juga aktivis SPENA diambil paksa dari rumah kontrakan mereka di kawasan Semarang Timur dan dibawa ke suatu tempat dan disekap oleh para pelaku di dua buah hotel di Semarang Atas serta dipaksa mengakui perbuatan mengkonsumi ganja.

Selain itu keempatnya juga dipaksa untuk menandatangani surat tanpa kop bahwa mereka tidak akan berbicara kepada siapapun soal peristiwa itu atau mereka akan diadukan ke pihak kampus agar dikeluarkan karena menggunakan narkotika.(YS/Gen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *