Advokasi Kebijakan Nasional Kegiatan

Kartu Identitas Pasien, Bukti Perhatian Negara pada Pecandu Napza

Semarang – Pelaksana program pengurangan dampak buruk penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza) suntik atau Program Harm Reduction di kota Semarang, pada Kamis (14/10) melakukan evaluasi dan koordinasi di Aula Puskesmas Padangsari Kota Semarang.

Pertemuan dibuka oleh Titik Rahayu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang.

“Sampai saat ini, pengguna napza suntik yang mengakses layanan kesehatan di klinik Harm Reduction di kota Semarang masih belum maksimal. Karenanya, pertemuan berkala seperti ini diperlukan. Selain untuk evaluasi, juga untuk mencari solusinya,” ujar Titik.

Peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah empat Puskesmas pelaksana Harm Reduction yakni Puskesmas Pegandan, Padangsari, Poncol dan Srondol.

Turut pula diundang dalam acara ini adalah tiga Kepolisian Sektor di wilayah sekitar Puskesmas (Gajahmungkur, Banyumanik, Semarang Selatan) serta Lembaga Pelopor Perubahan (LPP) sebagai institusi pendamping komunitas pengguna napza di kota Semarang.

M.Hasnul Fauzi selaku Koordinator Divisi Layanan Kesehatan di LPP menyampaikan bahwa pelaksanaan program Harm Reduction di kota Semarang yang dimulai pada 2004 lalu sampai saat ini sudah menunjukkan kemajuan.

Terbukti dengan tersedianya program terapi rumatan metadon (PTRM) di RSUD Dr. Kariadi sejak 2008. Terobosan ini diikuti oleh penyediaan layanan jarum suntik steril dan program terapi rumatan metadon (PTRM) di empat Puskesmas kota Semarang sejak 2009.

Pada 2004, layanan jarum suntik steril hanya disediakan oleh lembaga swadaya masyarakat

” Hal ini membuktikan adanya peningkatan kepedulian negara pada pecandu. Kendala yang ada diantaranya, rendahnya tingkat kepercayaan pengguna napza untuk mengakses layanan rehabilitasi rawat jalan di Puskesmas. Ini sangat terkait trauma psikologis pecandu napza atas kriminalisasi yang selama ini mereka alami”, lanjut Fauzi.

Hasil pertemuan hari ini antara lain adalah dicetaknya kartu identitas bagi pengguna napza yang mendaftar pada klinik Harm Reduction dengan penanggungjawab Sekretaris KPA Kota Semarang dan dengan sepengetahuan Polsek setempat.

Tujuan penerbitan kartu identitas tersebut adalah sebagai bukti terdaftarnya pengguna napza yang sedang menjalani rehabilitasi rawat jalan pada fasilitas yang disediakan negara yaitu Puskesmas.

Dengan dicetaknya kartu identitas tersebut, penyelenggara layanan mengharapkan ada peningkatan kenyamanan dan keamanan pengguna napza suntik, dalam memposisikan diri mereka sebagai warga negara yang berhak mendapatkan layanan kesehatan.(IH/YS)

2 thoughts on “Kartu Identitas Pasien, Bukti Perhatian Negara pada Pecandu Napza”

  1. Bravo untuk program HR di Semarang.
    tapi masih ada sedikit pertanyaan dan ganjalan dari beberapa pengakses layanan jarum suntik steril (khusus di Kota Bandar Lampung), terkait apakah dengan adanya kartu identitas tersebut dan terdaftar sebagai penerima layanan akan terjamin tidak akan diikuti, diinterogasi bahkan sampai ditangkap oleh OKNUM APARAT YG NAKAL ketika pecandu tersebut keluar dari area puskesmas pelaksana program HR tersebut atau ketika melakukan proses pengembalian jarum bekas, yang kadang2 kan junkie tuh males mo cuci insul ketika selesai melaksanakan ritualnya, nah didalam tabung insul itu kan kemungkinan masih ada kandungan heroinnya.. apakah itu sudah bisa dijadikan dasar atau bukti penyelidikan bahkan pengembangan penyelidikan. bagaiman menyikapi hal itu..? mohon pendapat dan saran. terima kasih atas perhatiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *