Humaniora Testimoni

Kampung Boncos, Potret Buram Pasar Swalayan Napza di Jantung Ibukota (1)

Kampung Boncos Photo: Kios Atmajaya
Kampung Boncos
Photo: Kios Atmajaya

Januari 2013

Kami berada di Boncos, sebuah kampung di wilayah kelurahan Kota Bambu Selatan, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Sore hari seperti ini, kesibukan transaksi dan penggunaan napza ilegal terlihat hampir di setiap sudut gang dan rumah-rumah penduduk. Hal ini sudah kami lakukan dalam beberapa bulan terakhir, mengamati secara rinci situasi Boncos yang sudah dikenal khalayak ramai sebagai ‘pasar swalayan napza ilegal’.

Anak-anak kecil berlarian kesana kemari dengan riang gembira, mereka berumur sekitar 5 -12 tahun. Mereka bermain dan bercanda tanpa menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal mereka tidak dapat dikategorikan sebagai tempat tumbuh kembang yang sehat. Transaksi dan penggunaan napza ilegal sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi keseharian anak-anak Boncos. Terlihat anak-anak menemani ayah atau ibunya menyuntikkan putaw (red: heroin kualitas rendah), duduk jongkok bersebelahan menyaksikan ritual tersebut tanpa rasa canggung. Bukan suatu hal yang aneh menyaksikan anak-anak mengantarkan alat suntik untuk para pengguna napza yang sedang bertransaksi di kampung mereka. Bahkan semua itu mereka lakukan atas sepengetahuan orangtua mereka.

Anak-anak di bawah umur sudah menganggap perilaku penggunaan napza baik itu putaw, shabu (red: nama populer metamfetamin) dan berbagai jenis napza lainnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kepolosan anak-anak tersebut sering dimanfaatkan orangtua mereka, mereka diminta menyimpan napza yang digunakan orang dewasa di sekitar mereka, dengan asumsi bahwa aparat penegak hukum tidak akan menggeledah anak-anak. Hal ini dilakukan ketika pengguna napza ingin menggunakan napza di luar wilayah Boncos. Perlu diketahui, ada sebuah pemahaman tak tertulis bahwa siapapun yang menggunakan napza ilegal di wilayah kampung Boncos, maka dipastikan akan aman dari penangkapan aparat. Lain halnya bila para konsumen napza, membawa keluar napza dari Boncos dan menggunakannya di tempat lain, keselamatan mereka tidak ‘terjamin’.

Siang, sore dan malam hari, aparat kepolisian berkeliling di seputar Boncos untuk meminta jatah uang kepada para pengedar. Aparat kepolisian sudah terbiasa meminta bantuan warga setempat untuk mencarikan shabu, bahkan bekerja sama dengan pengedar untuk menentukan target pengguna napza yang potensial untuk diperas. Tidak jarang para aparat kepolisian marah kepada penduduk Boncos yang mereka identifikasi sebagai pengedar yang tidak mau menyetor jatah uang atau membelikan napza yang diinginkan oleh aparat tersebut.

Anak-anak Boncos sudah sangat familiar dengan keberadaan aparat kepolisian di sekitar mereka, bahkan mengenal baik nama para polisi tersebut. Mereka mampu menyebutkan bahwa kebanyakan polisi yang berada di Boncos berasal dari berbagai Polsek yang dapat mereka sebutkan secara fasih satu persatu. Bahkan anak-anak tersebut bercerita, mereka menyaksikan para aparat kepolisian tersebut menggunakan shabu di rumah mereka, bersama dengan orangtua mereka.

Orangtua secara tidak langsung membawa pesan bahwa menyuntik heroin atau menggunakan shabu adalah perilaku sehari-hari yang wajar, demikian yang ditangkap oleh anak-anak penghuni Boncos. Penggunaan napza ilegal bukan sesuatu yang melanggar hukum, karena polisi juga menggunakannya.
Yang terburuk, anak-anak Boncos juga kerap menyaksikan pengguna napza meregang nyawa karena overdosis, baik di seputar gang-gang Boncos maupun di dalam rumah mereka sendiri. Biasanya, tidak ada seorang warga pun atau para konsumen napza yang lalu lalang di Boncos berinisiatif menolong membawa korban ke rumah sakit atau melaporkan kejadian overdosis kepada polisi. Mereka enggan direpotkan.

Bersambung: Kampung Boncos bagian 2

(YM, HI, CS, YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *