Humaniora Testimoni

Kampung Boncos, Potret Buram Pasar Swalayan Napza di Jantung Ibukota (2)

Boncos, Mei 2015

Telah dua tahun berlalu sejak terakhir kali kami mengunjungi Boncos. Waktu menunjukkan pukul 12.10 WIB, ketika kami berhasil memarkir kendaraan di lokasi yang aman. Ingatan lama tentang Boncos mulai menyeruak, ketika kami menyusuri lorong gang kumuh dan menapak jembatan kayu reot, sementara dengungan lalat yang berterbangan menampar-nampar telinga.

Nampak di sebelah kiri jalan setapak, menjulang tembok, dimana dibaliknya terdapat lapangan penuh dengan tumpukan sampah menggunung di beberapa titik. Pandangan mata masyarakat lokal cukup tajam mengawasi kehadiran dan memperhatikan semua gerak gerik kami.

Berada di tengah Boncos, kami berjumpa dengan tiga orang. Mereka pengguna napza yang memang berdomisili di Boncos. Adalah Badrun yang menjelaskan banyak hal tentang situasi terkini, bahwa putaw (red: heroin kualitas rendah) sudah sangat sulit didapatkan di Boncos. Hal ini terjadi sejak empat bulan terakhir, yaitu sekitar Januari 2015. ‘Putaw ada, tapi harganya mahal sekali. Ada paket seharga 300 ribu rupiah, tapi isinya sangat sedikit, setara dengan paket 50 ribu-an di masa-masa putaw masih banyak tersedia. Bahkan harga satu gram putaw sekarang mencapai 6 juta rupiah” ungkap Badrun pada NapzaIndonesia.

Ketika NapzaIndonesia menanyakan kualitas putaw yang beredar, menurut Badrun putaw yang didapatinya mengandung banyak campuran, walaupun harganya melambung setinggi langit. Untuk memenuhi kebutuhan penggunaan napza, kawan-kawan di Boncos beralih menyuntikkan ‘buprenorfin’, napza legal yang biasa diresepkan sebagai terapi pengalihan untuk orang dengan ketergantungan heroin. Sedangkan buprenorfin yang seharusnya dikonsumsi dengan cara diresapkan di bawah lidah, ketika disuntikkan dalam jangka panjang mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah, serta dapat mengakibatkan kematian.

Badrun menginformasikan bahwa layanan jarum suntik steril masih tersedia hingga saat ini. LSM Kios Atmajaya masih menyediakan pasokan jarum suntik steril pada hari kerja, Senin hingga Jumat. Jumlah rata-rata jarum yang digunakan di kampung Boncos berkisar pada angka 500 – 600 buah setiap minggunya, artinya ada sekitar 2400 jarum yang diperlukan setiap bulan.

Badrun mengungkapkan kekuatirannya pada NapzaIndonesia, “Saya dengar program jarum suntik steril akan selesai ya? Dulu saya sempat jadi satelit, menyediakan tempat untuk dititipi jarum suntik dari LSM untuk digunakan kawan-kawan disini”. Dalam kelompok Badrun, ada sekitar 200 orang yang rutin menggunakan napza bersama-sama, baik dari dalam maupun luar kampung Boncos.

Kemudian NapzaIndonesia bergeser ke kelompok kedua. Badrun juga yang mengantar kami. Kami bertemu lima orang yang sedang duduk:

NapzaIndonesia : “Gimana, PS (red = pasien) masih banyak?”
Anak Boncos 1 : “Ada sih bang..tapi ga rame kaya dulu”.
NapzaIndonesia : “Udah pada pakaw (red = menggunakan napza) hari ini?”
Beberapa menjawab : “Udeh sih..cuma ga full..paraah”. (*tertawa keras)

Seorang pria dalam kelompok kedua menuturkan bahwa situasi Boncos kini tidak seramai dulu, dimana para pengguna putaw berbondong-bondong membeli dan menggunakan putaw langsung di lokasi kampung Boncos. Saat ini, kebanyakan hanya penghuni asli Boncos yang masih bertahan menggunakan putaw campuran maupun menggunakan buprenorfin dengan cara disuntikkan.”Rame mah yang ada di Boncos aja, Bang, yang pada tinggal di mari dan pakaw masih banyak”.

Ketika NapzaIndonesia menanyakan layanan pemeriksaan kesehatan, yang selama ini diampu oleh LSM Kios Atmajaya, seorang perempuan menjawab : “Tahun berapa tuh ya..Kayanya 2014-an terakhir, sekarang mah dah ga ada, Bang”.

Pendanaan berbagai layanan kesehatan seperti distribusi jarum suntik steril dan pemeriksaan kesehatan bagi pengguna napza di kampung Boncos didominasi hibah lembaga internasional. Ketika lembaga-lembaga internasional menarik pendanaan, maka kerja-kerja rintisan yang telah dilakukan berbagai elemen masyarakat untuk melayani kampung Boncos terancam tersendat.

Tidak terlihat interaksi menyolok anak-anak di bawah umur dengan pengguna napza seperti situasi dua tahun lalu. Anak – anak berusia 12 hingga 17 tahun yang tinggal di kawasan Boncos tidak terlalu mempedulikan kehadiran warga asing, yang sudah merupakan hal biasa bagi mereka.

Kondisi kesehatan beberapa pengguna napza yang kami temui siang ini kurang baik. Mereka terlihat kotor dan tidak merawat diri, terlihat luka-luka di sekujur tubuh, baik bekas-bekas suntikan yang kemudian terinfeksi bakteri maupun luka karena kurangnya kebersihan diri.

Kami meninggalkan Boncos pukul 13.40 WIB, berharap satu saat tangan pemerintah daerah dapat menjangkau warga Boncos dengan memperhatikan masalah khusus terkait penggunaan napza yang menimbulkan dampak kesehatan, konsekuensi hukum, serta berbagai aspek sosio-kultural yang melingkupinya.

Kembali ke : Kampung Boncos bagian 1

(YM, HI, CS, YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *