Advokasi Berita Lembaga

Jumlah Pengguna NAPZA di Layanan PTRM RS Karyadi Menurun

drugs

Semarang – Kendati jarang diakses para pengguna napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) di Semarang, namun Pusat Rumatan Metadon (PTRM) RS Dr Karyadi, tetap membuka layanan bagi para pengguna napza yang menggunakan opiat sintetis jenis metadon.

Kondisi ini tentu menjadi bahan evaluasi karena terjadi penurunan jumlah pengguna napza yang mengakses layanan metadon dari yang empat orang di tahun 2009 menjadi hanya satu orang di tahun 2010. Padahal saat didirikan pada 2008 lalu, perkiraan jumlah pengguna napza yang akan mengakses layanan tersebut sebanyak 50 orang.

“Dalam catatan kami selama tahun 2010 ini hanya terdapat satu pecandu yang mengakses layanan metadone di tempat kami,” ungkap salah seorang perawat yang hadir dalam pertemuan evaluasi PTRM RS Karyadi, Semarang, yang difasilitatori Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Semarang dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Kamis (30/12) siang.

“Kegagalan” diaksesnya layanan metadon ini disebabkan banyak faktor dan salah satunya adalah masalah jarak yang terlalu dekat dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Poncol dan soal harga tiket layanan medis yang dianggap terlalu mahal.

“Harga tiket sebesar Rp.17.500,- untuk sekali masuk, adalah keluhan utama para pengguna napza,” ungkap perawat tersebut.

Padahal harga tiket masuk itu sudah cukup murah untuk rumah sakit setingkat RS Dr. Karyadi.

“Harga tiket ini sudah termasuk layanan medis lain jika terjadi efek samping akibat mengkonsumsi metadone.” imbuhnya.

Tidak hanya itu saja, jika ada pecandu yang ingin mengetahui status kesehatannya, PTRM RS Karyadi juga melayani akses tes HIV/AIDS sukarela atau yang biasa disebut dengan test VCT. Hal ini dilakukan mengingat para pengguna napza suntik (penasun) terbiasa menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, sehingga cenderung memiliki potensi tertular HIV/AIDS.

Senada dengan itu, Arifiyanto Abdul Fani dari Komunitas Advokasi Pengguna NAPZA, Performa, Semarang, mengatakan bahwa tidak adanya pecandu yang mengakses layanan methadone di RS Karyadi lebih karena jarak yang berdekatan dengan Puskesmas Poncol yang juga membuka layanan serupa dengan harga tiket yang jauh lebih murah, yakni hanya Rp.4000,- per-sekali masuk.

“Selama kami mendampingi para pengguna napza, hal utama yang paling dikeluhkan kawan-kawan adalah harga tiket yang relatif mahal. Apalagi metadon itu harus dikonsumsi setiap hari, tentu saja kawan-kawan pengguna napza yang rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah ini lebih memilih mengakses layanan metadon di puskesmas yang ada,” ungkap Abdul Fani.

Walau sangat jarang diakses oleh para pengguna napza, tidak ada alasan bagi Dinas Kesehatan dan RS Karyadi untuk menutup layanan metadon.

“Kendati tidak ada pasien, namun bukan sebuah kegagalan bagi klinik layanan metadon RS Karyadi. Karena keberhasilan sebuah layanan bukan ditentukan oleh banyak tidaknya pasien yang berkunjung,” ungkap Dr Ken Sularso, salah seorang praktisi kesehatan masyarakat, di Semarang.(Gen)