Sosok

Indra Simorangkir, Sepuluh Tahun Mengabdi Memulihkan Pecandu NAPZA

Indra Simorangkir

Semarang – Hari menjelang senja, matahari nyaris terbenam di ufuk barat, ketika NapzaIndonesia tiba di balik pintu Panti Rehabilitasi Rumah Damai, Gunung Pati , Semarang. Dari balik pagar tampak bayangan seseorang bergerak menuju pintu pagar besi yang nyaris tertutup rapat. Seorang pemuda berkulit terang yang mengenakan busana santai, menyambut kami. Ia Indra Simorangkir, pembina rehabilitasi sekaligus Ketua Yayasan Rumah Damai.

Belasan pria tampak sedang bersantai di tepi kolam renang panti rehabilitasi, sambil menyaksikan rekan-rekan mereka lainnya bermain voli. Sekilas mereka menyadari kehadiran tim NapzaIndonesia, kemudian kembali menekuni aktivitas mereka.

Indra mengajak NapzaIndonesia berkeliling fasilitas rehabilitasi dan mengajak melanjutkan pembicaraan di ruang perpustakaan dan multimedia Rumah Damai. Puluhan tanda penghargaan dan ucapan terima kasih dari berbagai institusi dan  kelompok masyarakat yang berkunjung ke Rumah Damai tampak tertata rapi di lemari pajang.

Bergaul Erat dengan NAPZA

Sepuluh tahun silam, Indra Simorangkir tercatat sebagai salah satu siswa di Yayasan Rehabilitasi Rumah Damai karena adiksinya terhadap heroin. Indra berdomisili di  Jakarta, ketika pertama kali menjalani rehabilitasi selama satu tahun di Rumah Damai pada 2002. Usai menjalani masa rehabilitasinya, Indra mengabdikan diri sebagai pembina di Yayasan Rumah Damai untuk membantu pecandu-pecandu lain pulih dari ketergantungan NAPZA.

Indra pertama kali berkenalan dengan dunia NAPZA saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di kelas enam SD Indra menggunakan alkohol dan berbagai jenis pil, saat ia masih tinggal di Medan. Ketika duduk di kelas 2 SMP, orang tuanya pindah tugas ke Jakarta, dan mulai saat itulah Indra mulai mengenal berbagai jenis NAPZA lain yaitu ganja.

Mulai Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga tamat pada tahun 1992, ia secara rutin menggunakan ganja, alkohol dan pil penenang antara lain rohypnol. Tahun 1993, ketika heroin mulai masuk ke pasar Indonesia, Indra mulai menggunakan heroin mulai dari dihirup hingga disuntikkan.

Sambil menjalani pendidikannya pada sebuah universitas di kawasan Lenteng Agung Jakarta, Indra merasa dirinya semakin tidak mampu lepas dari ketergantungan heroin. Hal ini berlangsung selama tiga tahun hingga krisis moneter pada tahun 1997-1998.

Pada masa krisis moneter itu Indra sudah mulai merasakan kesulitan ekonomi, sampai seseorang menawarinya shabu, yang pada era tersebut harganya lebih murah dari heroin. “Ada yang bilang kalau mau lepas dari heroin ada substitusinya, yaitu shabu. Itu informasi yang saya dapat waktu itu dan harganya memang lebih murah dari heroin. Kualitas barangnya juga lebih bagus saat pertama kali marak di Jakarta. Namun setelah saya menggunakan shabu sekian lama, efeknya ternyata berbeda dengan heroin”, lanjutnya.

Selama dua tahun, Indra justru mengalami ketergantungan terhadap shabu hingga mengalami paranoid, sampai akhirnya ia kembali lagi menggunakan heroin karena merasakan efek lebih nyaman pada tubuh. Hal ini terus berlangsung hingga ia berpindah-pindah kota dan berganti-ganti pekerjaan.

Terakhir sebelum masuk rehabilitasi, Indra bekerja pada sebuah kantor penyedia jasa pengamanan dan sekuriti. Pria lajang yang kini berusia 38 tahun ini mengakui bahwa dalam menjalankan pekerjaannya, ia dalam situasi kecanduan NAPZA. “Pagi mengkonsumsi NAPZA, siang kerja, sore sudah harus berpikir keras untuk mendapatkan NAPZA lagi,” ungkapnya.

Pulih dan Mengabdi di Rumah Damai

Indra yang sudah memasuki tahun ke-11 masa tinggal di Rumah Damai mengisahkan latar belakang keputusannya untuk terus membaktikan diri di Yayasan Rumah Damai. Berawal ketika ia selesai menjalani program rehabilitasi, ternyata pihak orangtua mengaku belum siap menerima Indra kembali  ke rumah.

Kekuatiran orangtua Indra ini dipicu oleh pengalaman pahit dimana Indra sudah sering berpindah-pindah tempat rehabilitasi namun ketika kembali ke rumah orangtuanya di Jakarta, ia selalu kambuh menggunakan NAPZA. “Trauma itu membuat orang tua saya tidak siap menerima saya kembali ke rumah. Ketika orang tua diberi tahu bahwa saya sudah membaik dan boleh pulang kerumah, mereka malah menyarankan untuk tinggal lebih lama di Rumah Damai untuk memantapkan pemulihan,” ujar Indra mengenang masa lalunya.

Indra memutuskan untuk menuruti kemauan keluarga, karena selama hidupnya  ia selalu mengikuti kemauan sendiri. Maka Indra mengambil tawaran dari Yayasan Rumah Damai untuk mengabdi sebagai pembina. Niat untuk menyenangkan orang tuanya, akhirnya membawa Indra pada titik dimana ia merasa menemukan jiwa dan semangatnya tumbuh untuk membantu pecandu lain untuk pulih .

“Orang-orang beropini tentang keputusan saya, bila mengabdi tiga tahun pertama di panti rehabilitasi, itu semacam kewajiban, lima tahun itu semacam pekerjaan, kalau sudah tujuh tahun itu artinya sudah panggilan jiwa,” kata Indra seraya tersenyum lebar.

Indra mengungkapkan perasaan takjub atas pencapaian dalam hidupnya. Berawal dari siswa rehabilitasi di Rumah Damai , kini ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua Yayasan Rumah Damai. Tanggung jawab Indra saat ini adalah menyusun program pemulihan bagi siswa dan rekan-rekannya sesama pembina.

Rumah Damai merupakan sebuah yayasan rehabilitasi pecandu NAPZA yang menggunakan pendekatan kerohanian. Sebagian besar program Rumah Damai berorientasi pada penguatan spiritual,  namun ada juga program peningkatan kapasitas dan keterampilan individu yang diajarkan.

“Pengembangan keterampilan individu disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing siswa. Contohnya, disini ada yang memiliki potensi melukis. Ini kita dorong supaya minat dan potensinya berkembang, antara lain dengan cara kita sediakan media yang bisa digunakan untuk melukis. Ini salah satu siswa disini sedang melukis motif batik pada semua pintu di area rehabilitasi,” jelasnya.

Bagi yang hobi beternak, Rumah Damai menyediakan lahan beternak lele. Selain sebagai penyaluran hobi, juga sebagai salah satu metode pemulihan. Pecandu yang sedang menjalani pemulihan di Rumah Damai didorong untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab atas apa yang mereka kerjakan.

“Mulai dari hal-hal kecil, siswa diajar untuk merancang rencana hidup ke depan dan diingatkan kembali untuk menjalani proses dalam mencapai sesuatu. Orang yang mengalami kecanduan, cenderung berpikir instan. Dalam pemulihan, siswa dilatih meraih sesuatu melalui proses. Contohnya, dalam beternak lele, sebagian hasilnya kita beli, sebagian lain boleh dijual keluar. Bisnis kecil-kecilan, namun belajar bertanggung jawab,” papar Indra.

Siswa yang memelihara lele sekaligus belajar mengatur keuangan dengan diharuskan membayar sewa lahan sampai mencari pembeli untuk hasil panen. Siswa Rumah Damai berjumlah 37 orang dari seluruh Indonesia, 25 diantaranya mengalami ketergantungan terhadap metamfetamin atau shabu.

Falsafah Rumah Damai sendiri menurut Indra adalah sebuah rumah pemulihan, dimana di tempat tersebut mempercayai adanya kesempatan kedua.

“Pecandu yang datang ke pemulihan biasanya merasa bahwa mereka telah habis, tidak ada hal berguna lagi yang tersisa dalam hidupnya. Ketika masuk ke Rumah Damai mereka diberi semangat untuk bangkit dan melihat bahwa kesempatan kedua untuk bisa berhasil dalam hidup itu ada,” katanya. (IH/YS)

3 thoughts on “Indra Simorangkir, Sepuluh Tahun Mengabdi Memulihkan Pecandu NAPZA”

  1. Yayasan Rumah Damai, Mas Indra S saya mau tanya,lokasi nya Di Gunung Pati semarang tepatnya dimana dan ada nomor tlp/hp yang dapat dihubungi???
    Terimakasih

  2. Haloo Poengky53.. Yayasan Rumah Damai lokasinya di Desa Cepoko Rt 04 Rw 01 Kelurahan Cepoko Kecamatan Gunungpati Semarang 50223. No hp saya 081325520110

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *