Berita Berita Internasional Riset

Ilmuwan AS Akan Teliti Manfaat Ganja Untuk Atasi Stress Pasca Trauma

Medical Marijuana

Denver – Beberapa organisasi veteran perang AS dan para aktivis pendukung ganja medis berargumen bahwa manfaat penyembuhan ganja dapat menolong mengurangi luka psikologis akibat perang. Tetapi manfaat tersebut belum diterima luas pada kalangan medis.

Saat ini, tim peneliti sedang menanti persetujuan dari Pemerintah Federal AS untuk melakukan penelitian pertama tentang efek medis ganja pada veteran perang penderita gangguan psikologis pasca trauma.

Proposal penelitian diajukan oleh the Multidisciplinary Association for Psychedelic Studies di Santa Cruz, California dan seorang peneliti dari University of Arizona College of Medicine. Tim peneliti akan menelaah manfaat potensial tanaman ganja dengan melibatkan 50 orang veteran perang yang mengalami gangguan psikologis pasca trauma, yang telah gagal menjalani jalur terapi lainnya.

“Dengan bertambahnya veteran dari perang Irak dan Afghanistan, ada kebutuhan besar untuk menangani gangguan psikologis pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder-PTSD),” ungkap Rick Doblin, Pendiri dan Direktur Eksekutif Kelompok Studi Psychedelic. “Para veteran perang adalah orang-orang yang ditempatkan di posisi berisiko tinggi, AS memiliki kewajiban moral untuk menolong mereka”.

Pada April 2011, Food and Drug Administration, Lembaga Pengawas Pangan dan Obat-obatan AS menyatakan puas karena masalah keamanan responden pada penelitian ini telah terjamin seperti yang dinyatakan oleh Rick Doblin dan Dr. Sue Sisley, Asisten Profesor pada University of Arizona College of Medicine.

Pernyataan FDA ini terlampir dalam sebuah surat yang ditujukan pada Rick Doblin. Tetapi surat tersebut juga menekankan bahwa penelitian tidak bisa dilakukan sampai tim peneliti mengidentifikasi sumber-sumber ganja untuk penelitian. Hal ini hanya bisa dilakukan bila proposal penelitian telah disetujui oleh Panel Saintifik dari Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat AS, yang didalamnya tergabung berbagai perwakilan dari agen-agen Pemerintah Federal AS.

Bila proposal penelitian disetujui, tim peneliti akan menggunakan ganja yang ditumbuhkan di University of Mississippi yang bekerjasama dengan National Institute of Drug Abuse, Lembaga Nasional Penyalahgunaan Obat-obatan AS. Inilah satu-satunya jalur mendapatkan ganja dalam sebuah penelitian yang disetujui Pemerintah Federal AS.

Juru bicara Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat AS menyatakan proposal penelitian ganja medis ini sedang dalam tahap pengkajian. “Produksi dan distribusi ganja untuk penelitian klinis sangat dibatasi jumlahnya dibawah UU Federal dan Komitmen Internasional,” ujar Tara Broido melalui surat elektronik. “Proposal penelitian sedang dikaji kualitas saintifik-nya dan seberapa besar kemungkinan tim peneliti akan menghasilkan manfaat yang berarti bagi masyarakat.”

Menurut Doblin, tim peneliti juga membutuhkan persetujuan dari Drug Enforcement Agency (DEA). Cukup sulit untuk mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Federal AS. Doblin dan Dr. Sisley menegaskan, meneliti manfaat ganja akan lebih sulit mendapatkan persetujuan dibanding meneliti dampak buruk ganja.

“Kami percaya bahwa kepentingan ilmu pengetahuan harus berada diatas kepentingan politik,” imbuh Dr. Sisley. “Stress pasca perang yang dialami para veteran bisa ditangani lewat berbagai disiplin ilmu. Obat-obatan seperti Zoloft dan Paxil telah terbukti tidak bisa menuntaskan masalah. Tetapi banyak beredar kisah dari mulut ke mulut bahwa ganja mampu menyembuhkan secara sistematik.” (nyt/YS)