Advokasi Berita Internasional Riset

Human Rights Watch: Pusat Rehabilitasi Paksa di Vietnam Tidak Manusiawi

Pusat Penahanan Pengguna NAPZA-Vietnam

Bangkok – Pengguna NAPZA yang ditahan polisi di Vietnam akan ditahan selama beberapa tahun, dipaksa bekerja dengan upah minim bahkan tanpa upah sama sekali. Mereka disiksa dan mengalami kekerasan fisik, demikian laporan Human Rights Watch dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (7/9).

Pemerintah Vietnam yang mengelola pusat penahanan pengguna NAPZA tersebut memegang mandat untuk ‘merawat’ dan ‘merehabilitasi’ pengguna NAPZA. Kenyataannya pusat penahanan tersebut lebih mirip fasilitas kerja paksa, dimana pengguna NAPZA bekerja 6 hari dalam seminggu untuk memproses kacang mede, menjahit garmen, dan lain-lain.

Pada halaman 121 Laporan Human Rights Watch “The Rehab Archipelago: Forced Labor and Other Abuses in Drug Detention Centers in Southern Vietnam,” mengisahkan pengalaman pengguna NAPZA yang dijebloskan ke 14 pusat penahanan dibawah otoritas pemerintahan kota Ho Chi Minh.

Menolak bekerja atau melawan pengurus di pusat penahanan dapat berakibat hukuman, dan pada beberapa kasus berujung penyiksaan.

“Sepuluh persen dari ribuan penghuni pusat penahanan telah ditangkap begitu saja, diluar kemauan mereka. Ini bukan perawatan ketergantungan NAPZA, pusat penahanan seperti ini harus ditutup, dan para penghuninya segera dilepaskan,” tegas Joe Amon, Direktur Kesehatan dan HAM Human Rights Watch.

Donor Internasional telah berkontribusi pada pusat-pusat penahanan di Vietnam melalui Kementerian Pekerjaan Umum, Penyandang Cacat dan Masalah Sosial. Joe Amon mengecam pihak Internasional agar mencermati bantuan yang diberikan ke Vietnam, bahwa pusat penahanan tersebut tidak seharusnya memperlakukan para pengguna NAPZA dengan semena-mena.(hrw/YS)