Kertas Kerja

Harm Reduction: Di Manakah Kita Sekarang ?

Oleh: Fredy Malik

Harm Reduction: Sebuah kebijakan atau program yang ditujukan untuk mengurangi dampak buruk kesehatan, sosial, ekonomi dari penggunaan napza. Fokus utama program  harm reduction ditujukan pada individu yang telah mengalami dampak buruk di berbagai aspek yang disebabkan oleh penggunaan napza. Program ini dapat juga ditujukan kepada keluarga, komunitas dan masyarakat di sekeliling individu tersebut.

Beberapa program Harm Reduction yang terbukti berhasil:

  1. Program intervensi untuk mengurangi kecenderungan mabuk di tempat umum.
  2. Program penyediaan jarum suntik steril untuk mengurangi transmisi HIV pada pengguna napza suntik.
  3. Program penyediaan tempat-tempat khusus merokok untuk membatasi jumlah perokok pasif yang terpapar asap rokok.

Idealnya upaya advokasi harm reduction harus memiliki hirarki:

  • Penyadaran
  • Identitas
  • Komitmen
  • Memiliki Basis di Masyarakat
  • Transformasi

Contoh kasus:

Pembentukan Kelompok Mahasiswa Peduli Harm Reduction

  1. Penyadaran : Kampanye ke Mahasiswa tentang Harm Reduction
  2. Identitas : Terbentuk Kelompok Mahasiswa Peduli Harm Reduction
  3. Komitmen : Kampanye-kampanye HR, Buku Saku HR khusus masyarakat umum (panduan praktis), Pelatihan HR khusus untuk masyarakat, dll
  4. Basis di Masyarakat : Gerakan 1000 Kampus Peduli HR
  5. Transformasi : Semua Kampus memilikii Kelompok Mahasiswa Peduli Harm Reduction

——————————————————————————————————-

Di Indonesia,  implementasi program Pengurangan Dampak Buruk Napza atau Harm Reduction sudah hampir mendekati satu dasawarsa. Namun nilai-nilai sosial di masyarakat Indonesia belum semuanya bisa menerima prinsip-prinsip harm reduction. Kesenjangan ini terjadi karena upaya edukasi ke masyarakat tentang harm reduction oleh lembaga pegiat harm reduction  belum seimbang jika dibandingkan upaya-upaya yang mereka lakukan ke pihak pemerintah. Implikasinya, harm reduction belum mampu mendapatkan simpati dari mayoritas rakyat.

Prestasi terbaik yang dicapai atas upaya advokasi harm reduction sampai dengan saat ini adalah KEPMENKES no 567/2006 dan PERMENKOKESRA no 2/2007. Tapi sayangnya prestasi ini belum mampu merubah paradigma rakyat. Rakyat Indonesia mayoritas masih “buta” tentang harm reduction. Harm reduction ibarat sebuah buku berbahasa Jepang, tentu saja tidak ada pembelinya kecuali bagi mereka yang sudah paham bahasa Jepang.

Butuh identitas yang jelas siapa pelaksana harm reduction di Indonesia, jika tidak ada maka mustahil mendapatkan dukungan publik. Edukasi dapat dilakukan lewat kampanye-kampanye seperti: penyediaan buku saku panduan praktis harm reduction khusus masyarakat umum, pelatihan khusus untuk masyarakat, dll. Saya pernah melihat foto sebuah halte bus di Hong Kong yang tulisannya: ”Methadone Save Lives”.  Hal ini suatu metode kampanye yang cukup efektif.

Basis harm reduction di masyarakat mutlak dibutuhkan, tanpa hal itu, upaya-upaya yang dilakukan lembaga-lembaga pelaksan akan mengalami stagnasi. Dalam beberapa tahun belakangan ini kita “kecolongan”. Lupa akan partisipasi masyarakat yang sangat krusial.

Selama ini lembaga pelaksana harm reduction hanya berfokus pada klien dan upaya advokasi ke pemerintah. Jika lubang ini ditambal maka advokasi harm reduction akan semakin tajam. Implikasinya, aktivis LSM, pengguna napza, dan masyarakat umum dapat bahu membahu untuk melakukan transformasi sosial dan juga kebijakan.

 

3 thoughts on “Harm Reduction: Di Manakah Kita Sekarang ?”

  1. I can’t figure out how to subscribe to the comments via my reader . I want to keep abrest of this, how do I do that?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *