Kertas Kerja

Harm Reduction: “Sebuah Perjalanan Ruang dan Waktu” *

fredyOleh: Fredy Malik*

Dari Rotterdam Menuju Warsawa

Kelompok pengguna NAPZA yang pertama di dunia berasal dari negeri Belanda. Kelompok tersebut bernama Junkiebonden. Junkiebonden berdiri pada awal 1970. Junkiebonden berpandangan bahwa kriminalisasi bukanlah solusi untuk permasalahan NAPZA.

Fokus dari perjuangan Junkiebonden ialah menentang kebijakan napza yang represif di Belanda pada saat itu, karena kelompok ini muncul jauh sebelum krisis AIDS muncul. Selain Junkiebond di Amsterdam juga ada kelompok pengguna napza yang bernama MDHG, kelompok ini merupakan kelompok pengguna napza pertama yang mendisribusikan jarum suntik  sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS pada 1984.

Aktivisme ini terus berkembang diberbagai negara, misalnya Vancouver Area Network of Drug Users (VANDU) berhasil mewujudkan tuntutan mereka kepada Walikota Vancouver agar segera mendirikan Safe Injecting Room (*ruangan yang disediakan untuk aktivitas menyuntikkan NAPZA, dengan supervisi petugas kesehatan dan penyediaan alat-alat steril), karena setiap hari selalu ada pengguna NAPZA suntik (penasun) yang meninggal karena AIDS.

Perjuangan yang tidak mudah, karena VANDU tidak saja harus berhadapan dengan Dewan kota Vancouver yang konservatif tapi juga warga East Hasting (daerah lokalisasi pengguna napza, dimana para pengguna napza melakukan aktivitasnya di tepi jalan) di Vancouver yang tidak menginginkan Safe Injecting Room di daerah mereka. Bentrok massa terjadi antara warga East Hasting (3000-5000) orang) dan anggota VANDU yang jumlahnya tidak sampai 1000 orang.  Akhirnya VANDU berhasil memenangkan pertikaian ini.

Walikota Vancouver akhirnya mengeluarkan PERDA NAPZA yang dikenal ‘4 Pilar Vancouver’ :

  1. Prevention (Upaya Pencegahan)
  2. Treatment (Perawatan Ketergantungan Napza)
  3. Law Enforcement (Penegakan Hukum)
  4. Harm Reduction (Pengurangan Dampak Buruk)

Dan “Safe Injecting Room” akhirnya disediakan oleh Pemerintah kota Vancouver.

Thailand

Pembantaian oleh Pemerintah Thailand yang menewaskan hampir 3000 Pengguna NAPZA di Thailand membuat dunia internasional marah.  Sebuah kebijakan yang sangat tidak manusiawi dan melanggar HAM ini akhirnya mendapatkan perlawanan dari para Pengguna Napza di Thailand yang tergabung dalam Thai Drug User Network (TDN).

TDN mendapat dukungan dari dunia internasional  untuk memaksa pemerintah Thailand menghentikan kebijakan ini. Untuk sementara waktu kebijakan Thai War On Drugs “dihentikan”. Namun sayangnya utusan Thailand dalam Pertemuan Comission Narcotics and Drugs (CND) beberapa waktu lalu (2008) memberikan pernyataan bahwa pemerintah Thailand akan kembali menerapkan Thai War on Drugs.

Tahun 2005, pada Konferensi Internasional Harm Reduction ke 16 di Belfast. Para aktivis Pengguna Napza di Eropa (tergabung dalam forum yag bernama DPFU) dan Aktivis NAPZA dari Amerika (tergabung dalam forum yang bernama LARIX) melakukan pertemuan informal  untuk membentuk sebuah Jaringan Internasional untuk para pengguna napza. Di kota Belfast inilah embrio International  Network of People Who Use Drugs (INPUD) mulai jadi wacana.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan di Belfast sebuah Deklarasi akhirnya lahir, yaitu “Vancouver Declaration”. Deklarasi ini dipublikasikan pada Kongres Internasional Pengguna Napza pertama dan Konferensi Internasional Harm Reduction ke 17 yang diadakan di Vancouver, Kanada.

Pembacaan Deklarasi Vancouver membangkitkan kesadaran kritis para aktivis pengguna napza yang hadir pada saat itu, diantaranya adalah delegasi dari Indonesia.  Mereka mendirikan Ikatan Persaudaraan Pengguna Napza Indonesia (IPPNI) yang bertujuan untuk “memanusiakan” pengguna NAPZA di Indonesia.

INPUD resmi lahir pada Kongres International Pengguna Napza Kedua & Konferensi Internasional HR ke- 18 yang diadakan di Warsawa, Polandia.

Dari Liverpool menuju Barcelona

Konferensi Internasional Harm Reduction diadakan pertama kali di Liverpool, Inggris pada 1991. Konferensi ini mayoritas dihadiri oleh aktivis akar rumput. Jumlah peserta saat itu hanya sekitar 250 orang. Ideologi para aktivis akar rumput dibalik konferensi tersebut ialah tentang legalisasi NAPZA walaupun saat itu belum disebutkan secara transparan.

Selain itu, isu lain yang dibahas ialah pengurangan risiko dan kerugian dari penggunaan Napza berdasarkan penelitian ilmiah. Pada saat itu isu Harm Reduction belum menjadi perhatian dunia internasional.

Setelah krisis AIDS meledak, pendekatan Harm Reduction mulai menjadi perhatian dunia internasional, hal ini terasa kental sekali pada saat sesi-sesi (mayoritas tentang intervensi terkait AIDS) Konferensi Internasional Harm Reduction ke 14, tahun 2003 di Chiang Mai, Bangkok.

Konferensi Internasional HR ke 17 2006 di Vancouver adalah titik balik yang signifikan yaitu kembalinya pergerakan Harm Reduction pada “fitrahnya”. Sesi-sesi yang ada saat itu mayoritas mengakomodir isu NAPZA secara keseluruhan (bukan hanya isu penasun dan Penanggulangan HIV/AIDS  saja).

Konferensi Internasional HR ke -19 di Barcelona, sesuai temanya “Menuju Pendekatan Global”, sesi-sesi yang ada mayoritas  membahas isu napza secara global (semua jenis NAPZA baik yang legal maupun ilegal dan juga tentang isu upaya-upaya Regulasi NAPZA).

Jika dilihat dari aspek politis, maka kontroversi Harm Reduction  adalah arena perseteruan antara mereka yang pro-legalisasi (drug reformer) dan yang anti legalisasi (prohibitionist). Terdapat juga pihak tengah yaitu pihak yang pro medikalisasi; yang menolak total legalisasi dan total pelarangan.

* harm reduction: upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk penggunaan NAPZA, baik dari segi kesehatan, hukum, sosial, politik dan ekonomi.
* Fredy Malik: Aktivis akar rumput Harm Reduction yang mengawali kiprahnya dengan menjadi relawan di Lembaga Pelaksana Layanan Harm Reduction pertama di Indonesia. Bekerja di beberapa organisasi non pemerintah di bidang Harm Reduction, sebelum akhirnya menjadi salah satu pendiri Ikatan Persaudaraan Pengguna Napza Indonesia (IPPNI), yang sekarang berubah nama menjadi PKNI. Fredy menjadi wakil Indonesia sebagai dewan pengurus pada organisasi pengguna Napza Internasional (INPUD) tahun 2008. Almarhum meninggal pada April 2009 di Jakarta.

Referensi:

  1. Manual User Organizing Training- Flynn
  2. From Rotterdam to Warsaw- Grant McNally (dipresentasikan pada Kongres Internasional Pengguna Napza di Warsaw 2007)
  3. Film berjudul FIX
  4. TDN/TTAG Press Release 14 February 2008
  5. Final Schedule International Harm Reduction Conference 19-Barcelona
  6. The Ideologies Behind Harm Reduction-Peter Cohen

May 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *