Advokasi HIV/AIDS Kegiatan

Hari AIDS Sedunia: HIV dan Dampak Buruk Pemenjaraan

Semarang – Memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) 2011, kelompok advokasi kebijakan NAPZA, PERFORMA mengeluarkan pernyataan yang isinya imbauan kepada aparat penegak hukum yaitu polisi, hakim dan jaksa untuk menghentikan pemenjaraan pengguna NAPZA dengan mengembalikan penanganan masalah NAPZA pada institusi kesehatan.

Penyataan tentang “Kasus Kematian Warga Binaan Kasus Narkoba Terifeksi HIV di Lapas Akibat Dampak Buruk Pemenjaraan Pengguna NAPZA” ini dikeluarkan pada 1 Desember bertepatan dengan peringatan HAS.

Dalam pernyataan tersebut, PERFORMA menyoroti tentang data yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral Pemasyarakatan (Ditjenpas) tentang jumlah warga binaan dan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan serta Rumah tahanan (Lapas/Rutan) seluruh Indonesia pada akhir 2010 adalah 131.115 orang. Dari jumlah tersebut 28,15% atau sejumlah 36.909 orang merupakan warga binaan dan tahanan kasus narkotika, dimana 70%nya adalah pengguna NAPZA termasuk pengguna NAPZA suntik, yang beresiko terinfeksi HIV.

Temuan kasus AIDS pada stadium terminal pada kalangan warga binaan dan tahanan membutuhkan penanganan AIDS secara menyeluruh termasuk peningkatan akses ARV, obat-obat infeksi oportunistik, dan perawatan paliatif berbasis UPT Pemasyarakatan untuk pemenuhan hak asasi WBP dan tahanan/tahanan dan agar tingkat kematian akibat AIDS dan infeksi oportunistik dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia memiliki 13 penjara khusus narkotika, 50-60% dari narapidana ini berada di pusat penahanan umum atau penjara umum. Lapas merupakan tempat yang beresiko sangat tinggi untuk penyebaran HIV, karena terjadinya praktek perilaku berisiko. Keadaan ini diperparah dengan minimnya pelayanan kesehatan dan tingkat penghunian yang melebihi kemampuan.

Sementara itu, dalam sebuah ringkasan eksekutif Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Lapas dan Rutan 2010-2014 Ditjen Pemasyarakatan, menyebutkan bahwa Situasi epidemi HIV, TBC, dan infeksi oportunistik di Lapas/Rutan di Indonesia masih belum berhasil dikendalikan dan menjadi penyebab kematian tertinggi di Lapas/Rutan pada tahun 2005-2009.

ingga tahun 2011, penanganan kasus HIV bagi warga binaan dan tahanan Lapas/Rutan tampak belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari adanya kasus kematian warga binaan Lapas/Rutan yang terinfeksi HIV. Hasil investigasi yang pernah dilakukan oleh kelompok advokasi kebijakan NAPZA PERFORMA di Lapas Ambarawa dan Kedungpane Jawa Tengah, menemukan bahwa akses kesehatan yang ada di Lapas masih sangat terbatas.

Beberapa pengguna NAPZA yang warga binaan kasus narkotika dan terinfeksi HIV berujung kematian saat sedang menjalani hukuman di Lapas. Pengguna NAPZA merupakan salah satu populasi kunci yang rentan terinfeksi HIV baik dari penggunaan jarum suntik, maupun perilaku seks yang tidak aman. Permasalahan pemenjaraan yang dihadapi pengguna NAPZA menambah rentan resiko kesehatan yang dihadapi saat harus menjalani hukuman di penjara apalagi jika terinfeksi HIV. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *