Berita Internasional

Gembong Narkotika Tewas Ditangan Polisi Nasional Kolombia

Bogota – Presiden Kolombia Juan Manuel Santos, Rabu (29/12) menyambut suka cita kematian Pedro Guerrero, gembong narkotika yang tewas di tangan polisi nasional Kolombia.

Pedro Guerrero yang terkenal dengan sebutan “Sang Pisau” ini dihargai 2,5 juta dollar Amerika Serikat atas perannya menyelundupan berbagai jenis narkotika ke Amerika Serikat.

Pihak berwenang setempat mengatakan gembong narkoba yang juga mantan anggota paramiliter Kolombia ini, mendapat nama panggilan Spanyol “Cuchillo”, dianggap bertanggung jawab atas kematian 3.000 orang, yang tewas saat Ia memimpin satuan dengan kelompok sayap kanan “United Self-Defense Forces of Colombia (AUC)”

“Pembunuh dari segala pembunuh telah tumbang, Kami telah mengejarnya selama bertahun-tahun,” ungkap Presiden Juan Manuel Santos dalam pernyataan persnya di markas Kepolisian Nasional Kolombia di Bogota.

Juan Manuel Santos menggambarkan kematian Guerrero sebagai “pukulan telak yang telah kita layangkan terhadap kelompok paramiliter narkoba.”

Sekitar 200 anggota komando polisi menyerang persembunyian Guerrero di pedalaman wilayah tenggara kota Puerto Alvira pada akhir 24 Desember, saat Natal umumnya dirayakan.

Setelah kontak senjata, polisi menahan tujuh anggota kelompok, termasuk kepala keuangan sindikat Harold Rojas Pineros alias “Loco Harold” atau “Harold si Gila”.

Polisi awalnya tidak menemukan Guerrero, tetapi menemukan mayatnya pada Selasa malam sekitar 200 meter dari pusat pertempuran.

Mayatnya sudah membusuk, tetapi pakar forensik telah mengkonfirmasi gembong narkoba itu setelah memeriksa sidik jari mayat.

Dalam baku tembak tersebut, dua petugas kepolisian ikut terbunuh.

Sementara, Kepala Kepolisian Nasional Kolombia, Oscar Naranjo, dihadapan wartawan menunjukkan pistol milik Guerrero yang gagangnya terbuat dari emas, serta pisau penjagal yang biasa digunakan gembong itu untuk memotong leher korban.

Guerrero memimpin sekelompok mantan pejuang sayap kanan yang menolak dibubarkan pada 2006 saat AUC mencapai kesepakatan dengan Alvaro Uribe, presiden Kolombia yang menjabat saat itu.

“Cuchillo” dan anak buahnya tetap mempertahankan persenjataannya dan membentuk kelompok sempalan bernama Pasukan Anti-teroris Revolusi Populer Kolombia (ERPAC), yang kemudian berkembang menjadi kelompok yang memperdagangkan obat terlarang.

ERPAC, yang aktif di Kolombia tengah, memiliki sedikitnya 1.000 anggota dan merupakan salah satu dari enam kelompok mantan pejuang paramiliter yang sekarang bergeser menjadi pedagang narkoba, menurut pihak berwenang Kolombia.

Uribe menjadi terobsesi dengan usaha penumbangan Guerrero dan mendesak secara umum pasukan keamanan untuk menekan penangkapannya, bahkan memecat jenderal militer karena dianggap kurang menekan dengan keras.

ERPAC termasuk dalam daftar Khusus terhadap Pedagang Narkoba Kementerian Keuangan AS, akan orang dan kelompok yang dilarang melakukan bisnis dengan warga AS.

Kelompok tersebut “beroperasi di Kolombia timur untuk melindungi ladang kokain dan jalur perdagangan narkoba” bekerja sama dengan FARC, kelompok yang Washington anggap sebagai “organisasi teroris narkoba,” menurut pernyataan kementerian keuangan AS baru-baru ini.(Ant)