Aktivitas Berita Berita Internasional Berita Lembaga Kebijakan Kebijakan Global

Forum Kemitraan The Global Fund: Program Pencegahan HIV Harus Tepat Sasaran

Partnership Forum - The Global Fund 2011

Sao Paulo – Forum Kemitraan The Global Fund hari pertama (28/6) dimulai dengan 5 topik diskusi yang digelar bersamaan. Topik difokuskan pada usaha perluasan manfaat kesehatan yang diterima komunitas terpapar AIDS, Tuberkulosis dan Malaria.

The Global Fund mengumpulkan semua masukan dari komunitas terdampak langsung, anggota parlemen, pejabat pemerintah, pelaksana program, dan profesional medis agar dana yang disalurkan benar-benar memenuhi kebutuhan pasien yang menerima layanan kesehatan.

Khartini Slamah, aktivis Asia Pacific Network for Sex Worker (Jaringan Pekerja Seks  Asia Pasifik) asal Malaysia mengungkapkan dalam paparannya dalam sesi diskusi Pendekatan HAM Pada Penanganan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, bahwa mayoritas pekerja seks menerima bantuan yang sesungguhnya kurang diperlukan.

Sebagai contoh, Khartini menyebut penyediaan mesin jahit bagi pekerja seks sebagai contoh penyaluran bantuan dana The Global Fund yang kurang tepat sasaran. Pekerja seks membutuhkan layanan kesehatan, dan pengakuan dari masyarakat bahwa pekerja seks adalah sebuah profesi. Kartini juga menekankan faktor ekonomi sebagai pemicu utama bagi perempuan, laki-laki, maupun transgender untuk terjun ke dalam bisnis pekerja seks.

Untuk mendorong pekerja seks berperan aktif dalam memeriksakan kesehatan, harus didahului oleh pengakuan masyarakat bahwa mereka adalah manusia biasa yang mencoba bertahan hidup. Pekerja seks bukan sampah masyarakat yang perlu dikucilkan sehingga pada akhirnya tidak berani memeriksakan masalah kesehatan mereka, demikian ungkap Kartini.

Sementara Yvonne Sibuea, Koordinator PERFORMA (Kelompok Advokasi Kebijakan NAPZA) asal Indonesia mengungkapkan dalam forum dialog, bahwa pengguna NAPZA seringkali menerima layanan kesehatan yang diseragamkan di semua wilayah tanpa memperhatikan kebutuhan spesifik daerah tertentu.

Di Indonesia, layanan kesehatan yang didanai oleh The Global Fund hanya menyasar komunitas pengguna NAPZA suntik berjenis opiat. Bantuan The Global Fund disalurkan dalam bentuk penyediaan jarum suntik steril dan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) yang hanya bisa dimanfaatkan oleh pengguna NAPZA jenis opiat seperti heroin. Penyediaan layanan kesehatan ini ditujukan untuk memutus mata rantai penularan HIV diantara pengguna NAPZA suntik, serta mencegah penyebaran ke populasi umum.

Jurnal-jurnal ilmiah terkini justru kian banyak mempublikasikan tingginya tingkat pengguna metamfetamin dan amfetamin yang terpapar HIV karena hubungan seksual tanpa kondom, yang dibeberapa negara justru telah melampaui angka infeksi HIV melalui jarum suntik, ungkap Yvonne kepada peserta diskusi. Metamfetamin dan amfetamin merupakan NAPZA jenis stimulan yang salah satu efeknya adalah peningkatan gairah seksual.

Di sisi lain, jenis NAPZA non opiat juga digunakan dengan cara disuntik, di Indonesia juga didapati penyuntikkan pil-pil penenang yang berisiko menjadi media transmisi virus HIV.

Tentunya penanganan ketergantungan metamfetamin, amfetamin dan pil-pil penenang tidak dapat diatasi oleh penyediaan metadon semata. Pemerintah Indonesia perlu memikirkan langkah-langkah yang tepat dalam pemanfaatan dana The Global Fund agar juga dapat melakukan pencegahan HIV pada pengguna NAPZA non-opiat, serta menyediakan penanganan berbeda bagi pengguna NAPZA yang tidak menyuntik.(YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *