Berita Internasional Kebijakan Global

Balas Sikap Keras China, Filipina Umumkan 72 Warga China Terkait Kasus Napza

Jesse Robredo

Manila – Pemerintah Filipina awal April ini meradang saat permohonannya agar China membebaskan tiga warganya yang tertangkap saat menyelundupkan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) ke negara “tirai bambu” itu ditolak mentah-mentah, bahkan China menghukum mati ketiganya akhir Maret lalu.

Ketiga  warga Filipina ini masing-masing bernama Ramon Credo (42), Sally Villanueva (32) dan Elizabeth Batain (38), Ketiganya ditangkap secara terpisah di China pada 2008 lalu terkait upaya menyelundupkan heroin dan dijatuhi hukuman mati.

Sikap tegas China ini kemudian “dibalas” pemerintah Filipina yang mengumumkan ada 81 warga negara asing yang masih ditahan di penjara-penjara Filipina terkait kasus penyelundupan, peredaran, perdagangan dan produksi napza. Dari 81 tersangka dan terdakwa ini, 72 diantaranya adalah warga negara China.

Sekretaris Departemen Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah Filipina, Jesse Robredo, Selasa (5/4), mengatakan berdasarkan data Kepolisian Nasional Filipina (PNP), sejak 2003, pihak kepolisian nasional telah menangkap 90 orang asing.

Dari 90 orang ini, 77 diantaranya masih berada dalam tahanan dan sedang menjalani pemeriksaan pendahuluan ataupun proses pengadilan. Empat terdakwa diantaranya telah divonis bersalah, lima dibebaskan, sedangkan empat tersangka lainnya dibebaskan dengan jaminan.

“Unit anti-narkotika PNP selama ini bekerja sama dengan Departemen Kehakiman untuk memastikan keberlangsungan proses hukum bagi para tersangka,” papar Robredo seperti yang dikutip abs-cbnNEWS.com.

Presiden Filipina, Benigno Aquino III telah mengeluarkan perintah untuk mengintensifkan kampanye melawan sindikat narkotika dalam dan luar negeri yang merekrut dan menggunakan warga Filipina di luar negeri sebagai penyelundup narkotika, seperti yang terjadi pada tiga warga Filipina yang telah dieksekusi mati akhir bulan lalu di China.

“Kami memiliki tugas mendesak dari Presiden untuk mengejar sindikat lokal dan asing yang merekrut warga negara Filipina menjadi kurir peredaran napza, dan pada saat yang sama kami juga mengintensifkan kampanye kami dalam melawan sindikat napza yang memproduksi, mendistribusikan dan menjual obat-obatan terlarang di negara ini,” tegas Robredo.

Sejak 2003, dari 90 warga negara asing yang ditangkap karena tersangkut kasus napza, 72 diantaranya adalah warga negara China, 9 warga Taiwan; 4 warga Malaysia, 2 warga Singapura, sedangkan 3 lainnya adalah warga Inggris, Korea, dan Macau.

“Dari 90 tersangka warga asing ini, 81 diantaranya telah diidentifikasi sebagai produsen napza, sementara 9 terlibat dalam perdagangan dan penyelundupan napza. 8 ditangkap dalam operasi jebakan petugas, sementara sisanya tertangkap selama operasi pencarian dan penyitaan,” kata Robredo.

Filipina Tidak Menghukum Mati Warga China

Kepada media, Robredo menjelaskan beberapa warga China telah dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan Filipina dan bukan hukuman mati kendati warga China tersebut melakukan kesalahan yang lebih berta hukumnya.

Lan Li Yan dan Li Tan Hua, misalnya adalah dua warga China yang ditangkap selama operasi pencarian dan penyitaan di rumah kontrakan mereka di Perumahan Marina Bay, Paranaque. Pada 28 Juli 2003 keduanya telah dihukum penjara oleh Pengadilan Paranaque terkait pembuatan lebih dari 163 kilo hidroklorida metamfetamin atau shabu.

Sementara di Davao, Hakim Romeo Albaraccin memvonis dua warga negara China lainnya bernama Carlos sy dan Shi Jin Sheng, yang ditangkap di Davao City pada 2004 silam terkait pengoperasian sebuah laboratorium shabu.

Berdasarkan laporan Kepolisian nasional Filipina (PNP) Robredo juga mengatakan pada 2003 Polisi Mambungan, Antipolo City, menangkap 4 warga negara China dan menyita 1.108 kilo shabu, bahan kimia, dan peralatan laboratorium untuk membuat shabu.(cbn/Gen)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *