Aktivitas Berita Berita Internasional Berita Lembaga Kegiatan

Evo Morales: Kriminalisasi Daun Koka adalah Kesalahan Sejarah

Evo Morales - Presiden Bolivia

Wina – Presiden Bolivia Evo Morales membela hak-hak rakyat Bolivia untuk meneruskan tradisi nenek moyang mereka mengunyah daun koka. Morales kembali mengangkat seruan Bolivia untuk mendapatkan pengecualian dalam pelaksanaan Konvensi Tunggal PBB tahun 1961 yang telah ditandatangani oleh pemerintahan militer Bolivia pada 1976.

Pemerintah Bolivia pada saat itu berkomitmen untuk menghapuskan penanaman koka di Bolivia dalam kurun waktu 25 tahun.Konvensi tersebut melarang seluruh penanaman koka dan penggunaannya sebagai tradisi pemujaan nenek moyang di Bolivia.

Morales menyebutkan, ratifikasi Bolivia atas Konvensi Tunggal PBB tahun 1961 sebagai ‘kesalahan sejarah’ yang perlu diluruskan. Daun koka tidak seharusnya dikriminalkan, karena daun koka berbeda dari kokain. Dalam bentuk alamiahnya, daun koka bukanlah narkotika, demikian ungkap Morales.

Morales bersedia mendukung Konvensi Tunggal PBB tahun 1961, bila permintaan amandemen telah dilakukan, dengan menghapus kalimat pelarangan menguncyah daun koka.Dalam berbagai kesempatan, Morales meminta PBB agar Bolivia dapat meneruskan tradisi budaya dan keagamaan mereka.

Pada pertemuan tahunan Komisi Narkotika PBB di Wina, Senin (12/3), Morales menerangkan manfaat daun koka untuk keperluan medis, dan menyerukan penghentian stigma terhadap daun koka sebagai ‘racun’.

Menurut para pakar, tanaman Erythroxylum coca mengandung vitamin A, B dan C, kalsium, besi, dan fosfor. Tanaman koka dapat bertahan lama di tanah kering, dalam keadaan kekurangan nutrisi sekalipun.

Bolivia adalah negara penghasil koka terbesar ketiga di dunia, setelah Colombia dan Peru.

Morales juga mengingatkan bahwa Bolivia telah berpartisipasi dalam memerangi peredaran NAPZA ilegal. Pada 2011, Bolivia berhasil menyita 27 ton pasta koka, 5.1 ton hidroklorida dan 382 ton ganja.

“Di Bolivia, tidak diperkenankan ada penanaman koka secara bebas, tapi pelarangan total penanaman koka juga tidak tepat diberlakukan,” ungkap Morales mengakhiri presentasinya.(pl/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *