Berita Internasional Peristiwa

Enam Perempuan Indonesia Terancam Hukuman Mati di China

China

Semarang – Enam perempuan asal Jawa Tengah terancam vonis hukuman mati di China karena terlibat kasus narkoba. Mereka mengaku dijebak oleh mafia narkoba internasional untuk masuk ke China dengan membawa narkoba.

Nur Bidayati (38), warga Andungsili, Mojotengah, Wonosobo, ditangkap pada Desember 2008 lalu saat tiba di Buyun International Airport karena membawa heroin seberat 985 gram. Nur yang kini dipenjara di Guangzhou, dijatuhi vonis mati dengan penundaan dua tahun pada tingkat pengadilan pertama dan dikuatkan pada sidang banding.

Kelima perempuan lainnya yang bernasib sama seperti Nur adalah Sri Mulyani (26) asal Kendal, Dyah Puraningsih (34) asal Boyolali, Ari Ani Hidayah asal Banyumas, Sri Bidayati (31) asal Pati, dan Tuti (26) warga Sampang, Cilacap.

Berita tentang keenam perempuan asal Jateng yang terancam hukuman mati di China ini disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertrans) Provinsi Jateng, Edison Ambarura, Rabu (12/10).

Ambarura menjelaskan bahwa keenam perempuan ini ada yang sudah dijatuhi vonis dan sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati, namun ada juga yang masih menjalani proses persidangan dengan ancaman hukuman mati.

Keenamnya ditangkap oleh polisi China dengan tuduhan melakukan perbuatan melanggar hukum dengan menjadi kurir, menyimpan dan mengedarkan narkoba. Mereka berenam bekerja di China sebagai tenaga kerja reguler, namun kemudian terjebak dalam perdagangan narkoba yang dikendalikan mafia narkoba internasional.

Dyah Puraningsih ditangkap di Luohu Shenzen karena menyembunyikan narkoba seberat 756,8 gram di pakaian dalamnya. Dyah dijatuhi hukuman mati pada Mei 2010 lalu denganjangka aktu penundaan dua tahun. Demikian yang disampaikan Ambarura seperti diberitakan Warta Jateng.

Sri Mulyani, ditangkap pada 14 Desember 2010 dan Sri Bidayati ditangkap pada 15 Oktober 2010. Sedangkan Ari Ani Hidayah ditangkap saat baru tiba dari Kuala Lumpur dengan menggunakan pesawat Malaysia Airlines di Bandara Mailan, Hoikuo pada 17 Juni 2010. Saat ditangkap, Ari membawa 594 heroin.

Tuti ditangkap oleh polisi China pada 27 Maret 2011 karena membaa heroin seberat 594 gram.

Menanggapi hal ini, Ambarura mengatakan bahwa pemberian bantuan hukum dan upaya pembebasan keenamnya dilakukan oleh Kementrian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di China.

“Saya mengimbau kepada para tenaga kerja yang bekerja di luar negeri untuk berhati-hati jika menerima paket,” ujar Ambarura.

Sementara itu, Direktur Legal Resource Center for Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia Semarang, Evrisan, menyatakan keprihatinannya atas kondisi keenam perempuan ini.

“Tindakan yang harus dilakukan segera adalah memastikan mereka mendapatkan pengacara yang berkualitas serta tidak diperlakukan diskriminatif,” ujarnya dalam Warta Jateng.

Evrisan menambahkan, apapun kasusnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum dari negara dan negara berkeajiban memberikan perlindungan yang diperlukan.

Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah RI. Dalam sindikat narkoba, perempuan seringkali dijadikan alat dan dikendalikan oleh sindikat yang terorganisir rapi. Dalam hal ini, mereka tidak memiliki posisi taar sedikitpun,” ungkapnya. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *