Kegiatan

Empat Pemerhati Kebijakan Napza Indonesia Dijadwalkan Berbicara di Albuquerque

Albuquerque – Empat aktivis perubahan kebijakan napza asal Indonesia dijadwalkan berbicara pada Konferensi Internasional Reformasi Kebijakan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (napza) atau International Drug Policy Reform Conference yang berlangsung di Albuquerque Convention Center, Albuquerque, New Mexico.

Baby Virgarose Nurmaya, Koordinator Yayasan STIGMA – Jakarta dijadwalkan akan berbicara dalam diskusi interaktif  “Melawan Stigma dalam Kebijakan Harm Reduction” pada Kamis siang pukul 11.30 waktu setempat. Dalam sesi ini akan dibahas isu tentang para pengguna napza dan individu lainnya seperti halnya mantan warga binaan yang bersinggungan dengan berbagai macam stigma.

Sesi ini membahas tentang cara-cara yang dilakukan oleh pelaksana layanan Harm Reduction dan advokat Harm Reduction untuk menggeser stigma dan rasa rendah diri menjadi sebuah kebanggaan dan rasa kepemilikan.

Stigma yang dihadapi organisasi penyedia layanan dan advokat Harm Reduction dari berbagai belahan dunia dibahas dalam sesi ini. Individu dan organisasi memaparkan pengalaman mereka memenangkan pertarungan dan dan menghadapi  tantangan yang menghadang pelaksanaan kebijakan Harm Reduction.

Ricky Gunawan, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBH Masyarakat) – Jakarta, dijadwalkan akan berbicara dalam diskusi panel yang bertajuk “Pesan sebagai Media: Komunikasi dan Penjangkauan tanpa Batas“ pada Kamis petang waktu setempat.

Dalam diskusi ini Ricky Gunawan akan membahas tentang bagaimana mengubah opini publik menuju pemahaman lebih mendalam tentang napza dan pengguna napza mutlak dibutuhkan dalam menggeser sebuah kebijakan publik, serta  bagaimana efektifitas penyampaian pesan dan penjangkauan, menyumbangkan sesuatu untuk mempengaruhi sebuah kebijakan publik.

Asmin Fransiska, dari Indonesian Coalition on Drug Policy Reform (ICDPR) dijadwalkan akan berbicara dalam diskusi interaktif bertema “Setelah Wina: Masa Depan Pembaharuan Internasional dan PBB” pada Kamis petang di ruang yang berbeda.

Diskusi ini membicarakan tentang perkembangan yang tidak diharapkan pada Pertemuan Khusus PBB untuk membahas kebijakan napza di Wina-Austria, Maret 2009 lalu. Masalah terpenting adalah bagaimana dapat melakukan reformasi pada Konvensi PBB tentang napza.

Para panelis berbagi pengalaman tentang langkah-langkah yang dilakukan di negara masing-masing untuk melakukan tekanan menuju perubahan kebijakan napza.

Kemungkinan masalah resesi global dan pergeseran pemerintahan dari Presiden Bush ke Presiden Obama mempengaruhi kebijakan napza dan bagaimana para reformis dapat memberikan pengaruh yang terbaik untuk masa depan kebijakan napza global akan dibicarakan tuntas dalam forum ini.

Sementara Yvonne Sibuea, Koordinator Pergerakan Reformasi Kebijakan Napza (PERFORMA) Semarang, dijadwalkan akan berbicara dalam diskusi interaktif bertema “Menjembatani  Kesenjangan: Pengorganisasian Pengguna Napza” pada Jumat (13/11) petang.

Forum ini akan membahas bagaimana masyarakat dapat menghargai pengguna napza dalam kehidupan sehari-hari dan dalam melakukan advokasi pada bebagai komunitas yang memiliki keterkaitan dengan perang terhadap napza.

Selain itu akan dibahas pula kendala-kendala yang terjadi dalam mengorganisir pengguna napza di Amerika Serikat, Eropa serta Asia. Dalam forum ini para advokat, pengguna napza aktif dan mantan pengguna napza akan berbagi pengalaman membicarakan langkah-langkah untuk mengangkat suara populasi ini ke permukaan.(YS/Gen)