Kegiatan

Edo Nasution : Perubahan Kebijakan Napza Dapat Diraih Melalui Kerjasama Global

Arlington, Va.International Drug Policy Reform Conference yang diselenggarakan di Crystal Gateway Marriott Hotel, Arlington Virginia ditutup pada Sabtu (21/11) petang waktu setempat. Konferensi telah berlangsung selama 4 hari ini dimulai pada 19 November 2015 lalu.

Konferensi dihadiri sekitar 1.500 peserta dari 30 negara, dengan Drug Policy Alliance, sebuah organisasi terkemuka yang berfokus pada reformasi kebijakan napza di AS, menjadi tuan rumah konferensi dua tahunan ini.

Edo Nasution, Koordinator Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia yang mendapat kesempatan berbicara dalam acara penutupan konferensi menyerukan agar masing-masing pihak yang bekerja di ranah reformasi kebijakan napza dapat saling belajar, mengatur strategi dan melakukan advokasi bersama di tingkat global. Edo menekankan, bahwa gerakan kebijakan napza merupakan momentum terbaik yang seharusnya digunakan untuk memperjuangkan kebebasan dari perlakuan tidak manusiawi yang ditujukan pada individu pengguna napza. “Saya lelah menyaksikan komunitas pengguna napza dimarginalkan secara sistematis,” ungkap Edo.

Edo yang memulai aktivisme di bidang reformasi kebijakan napza pada 2007 pernah mengalami penembakan dan penyiksaan oleh aparat penegak hukum, semata-mata karena ia menggunakan napza. Pengalaman ini yang menjadi motivasi Edo untuk mendorong gerakan perubahan di kalangan komunitas pengguna napza maupun di tataran pemangku kebijakan, agar kebijakan penanganan napza di Indonesia dapat bergeser menjadi lebih manusiawi.

Dalam sesi Reform Advocacy in Challenging Context, Edo memaparkan situasi kebijakan napza di Indonesia yang mengalami kemunduran dengan penetapan “Indonesia Darurat Narkoba” oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Penetapan negara dalam situasi darurat tersebut, mendorong para pejabat negara yang bekerja dalam ranah kebijakan napza merespon dengan pendekatan penegakan hukum yang cenderung ekstrem, seperti halnya wacana yang dilontarkan Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen. Budi Waseso, yaitu agar buaya dan piranha digunakan dalam mengamankan penjara narkotika.

Pada acara sosialiasi P4GN di Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (17/11)Budi Waseso menyatakan ketidaksetujuannya atas rehabilitasi pada pecandu napza. Ia beranggapan, pecandu napza lebih baik menjalani proses pemidanaan agar ‘kapok’ dan tidak menggunakan napza lagi. (Yvonne Sibuea)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *