Sosok

Dr Suzanna, Sosok Dokter Kesayangan Pecandu NAPZA Kota Semarang

dr Suzanna, Kepala Puskesmas Srondol Semarang

Semarang – Dr. Suzanna, yang akrab disapa Bu Suzan oleh komunitas pecandu di kota Semarang, telah usai menjalankan kegiatan dinasnya sebagai Kepala Puskesmas Srondol ketika ditemui oleh NapzaIndonesia. Puskesmas Srondol tempat dr. Suzanna bertugas merupakan salah satu dari empat Puskesmas di Kota Semarang yang menyediakan layanan pengurangan dampak buruk penggunaan napza atau layanan Harm Reduction sejak 2009 hingga kini.

Layanan kesehatan yang disediakan di Puskesmas Srondol adalah alat suntik steril, tes HIV dan infeksi menular seksual (IMS), pemeriksaan kesehatan dasar dan konseling adiksi. Dimata para pecandu yang menjadi pasiennya, sosok Bu Suzan dinilai sabar, ramah dan  bersedia meluangkan waktu bagi pecandu yang ingin berkonsultasi.

Dr. Suzanna mulai berinteraksi dengan dunia adiksi sejak Puskesmas Srondol dipercaya Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk menjalankan program Harm Reduction pada 2009. “Awalnya saya belum mengerti apa-apa tentang  program pengurangan dampak buruk NAPZA. Pengetahuan saya minim tentang pecandu dan bagaimana menangani mereka. Bahkan pengalaman khusus menangani masalah napza juga baru saya mulai di tahun 2009”, ujarnya.

Ketika mulai menjalankan program layanan dan berinteraksi dengan pengguna napza , perlahan-lahan ia mulai memahami bagaimana seorang yang menggunakan napza begitu sulit untuk terlepas dari ketergantungan. Berbekal pemahaman baru tersebut, Dr. Suzanna, beberapa dokter dan petugas paramedis di Puskesmas Srondol sepakat mempermudah mekanisme layanan.

“Jam layanan memang hanya sampai jam 12 siang saja, namun bagi pecandu yang datang untuk konseling atau konsultasi kesehatan bisa langsung menemui dokter yang bersangkutan tanpa harus menunggu dipanggil bersama pasien dan pengunjung lain,” terang Dr.Suzanna.

Selama program berjalan beberapa waktu, Dr. Suzanna mendapati bahwa pengguna napza, lebih membutuhkan perhatian dan motivasi untuk berhenti menggunakan napza. Sementara penghakiman masyarakat justru menghambat proses pemulihan. Dokter yang juga melayani konseling diluar jam kerjanya ini mengungkapkan bahwa pengguna napza ingin didengarkan saat mereka memiliki masalah. Perhatian akan menumbuhkan motivasi pengguna NAPZA untuk berubah.

Dr. Suzanna mengisahkan bahwa sampai saat wawancara dilakukan masih ada pecandu yang datang padanya untuk konseling atau sekedar menceritakan masalah hidupnya. Waktu yang diluangkan Dr. Suzanna untuk menjadi pendengar timbul dari keinginannya untuk membantu sesama. Meskipun ia mengakui tidak mudah menghadapi seseorang yang kecanduan napza. Namun dengan mempercayai bahwa pengguna napza pada dasarnya adalah baik, merupakan motivasi tersendiri bagi dr.Suzanna.

“Kadang dalam sesi konseling, kita tidak melulu membahas tentang penggunaan napza. Ada juga cerita-cerita tentang masalah keluarga dan kehidupan mereka. Saya hanya menyampaikan nilai-nilai kebaikan Tuhan yang universal dengan tidak membeda-bedakan agama, kepada mereka. Saya percaya mereka baik dan bahwa disamping mereka menggunakan napza, banyak hal baik yang telah mereka lakukan,” ungkapnya. Selain konsultasi dari sisi medis penggunaan napza, ada beberapa pengguna napza yang akhirnya secara rutin datang kepadanya untuk dibimbing secara spiritual.

Edukasi yang berkaitan dengan pengurangan dampak buruk napza disampaikan dalam setiap sesi konseling, misalnya tentang risiko menyuntik Buprenorfin dan pentingnya penggunaan kondom saat berhubungan seksual. “Edukasi kesehatan tetap kami sampaikan secara bertahap untuk meminimalisir masalah kesehatan pada pengguna NAPZA,” imbuh Dr. Suzanna. ” Semua manusia sama di hadapan Tuhan, ketergantungan napza ini bukan masalah dosa atau tidak. Dengan menunjukkan bahwa pecandu ini diterima dan disayang, suatu hari mereka akan lepas dan kembali pada orang-orang yang menyayanginya dengan keinginannya sendiri, bukan dengan paksaan”. (IH/YS)

 

One thought on “Dr Suzanna, Sosok Dokter Kesayangan Pecandu NAPZA Kota Semarang”

  1. Bu Suzan,saya mau bertanya,apakah penderita HIV/AID bisa berumah tangga dan mendapatkan keturunan seperti layaknya pasangan2 yang tidak menderita HIV/IAD??
    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *