Berita Berita Internasional Riset

Dr. Carl Hart: 80-90% Pengguna Napza Tidak Mengalami Ketergantungan

Carl Hart_275_157
Dr. Carl Hart

Washington, D.C. – Video yang memuat pernyataan Dr. Carl Hart, seorang ahli syaraf dan profesor di bidang psikologi dan psikiatri ketika berbicara pada sebuah acara bincang publik di televisi, TED talk pada September 2014 lalu, dikategorikan oleh salah satu kontributor WashingtonPost, Christoper Ingraham, sebagai salah satu video paling kontroversial melawan perang napza.

Dalam Ted Talk, Dr. Hart memaparkan berbagai temuan yang berkaitan dengan risetnya mengenai adiksi, “Saya dibesarkan di wilayah miskin di Miami. Saya berasal dari sebuah komunitas dimana penggunaan napza sangat lazim. Saya menyimpan senjata api dalam mobil. Saya terlibat kejahatan kecil-kecilan. Saya menggunakan dan menjual napza. Tetapi saya berdiri di hadapan anda sekalian sebagai profesor ilmu adiksi di Universitas Columbia.”

Setelah melalui masa muda yang sulit, Dr. Hart mengatakan, “Saya percaya bahwa kejahatan dan kemiskinan di komunitas saya adalah akibat langsung dari kokain.” Ia pernah mempercayai pendapat umum, yang dipaksakan oleh para penentu kebijakan pada periode 80-90 an, bahwa seseorang dapat mengalami ketergantungan kokain dan napza lainnya hanya dengan satu kali mencoba napza tersebut.

Ternyata, kemudian riset Dr. Hart membuktikan hal tersebut keliru. Dr. Hart merekrut pengguna kokain dan metamfetamin (shabu) dalam laboratoriumnya, dan dalam periode beberapa hari menawarkan kepada mereka beberapa pilihan: mereka boleh mendapatkan satu dosis napza pilihan mereka, atau mereka dapat menerima pembayaran sebesar 5 dolar apabila mereka tidak mengambil napzanya. Yang penting diperhatikan adalah, pembayaran yang ditawarkan bernilai lebih rendah dari nilai napza yang akan mereka konsumsi.

Berlawanan dengan pendapat umum bahwa individu dengan ketergantungan napza akan melakukan apapun untuk mendapatkan satu dosis, Dr. Hart menemukan bahwa separuh dari pengguna kokain dan shabu lebih memilih uang daripada napza. Dan ketika uang yang ditawarkan kepada mereka ditambah menjadi 20 dolar, hampir 80% pengguna shabu memilih mendapatkan uang. Pelajaran yang dapat diambil dari riset ini adalah, alternatif yang menarik dapat menurunkan penggunaan napza secara drastis, demikian pernyataan Dr. Hart.

Dr. Hart menekankan bahwa, ” 80 – 90% individu yang menggunakan napza tidak mengalami ketergantungan. Mereka tidak memiliki masalah dengan napza. Kebanyakan dari pengguna napza adalah anggota masyarakat yang terhormat. Mereka bekerja. Mereka membayar pajak. Mereka memelihara keluarga mereka dengan baik. Dan dalam beberapa kasus, pengguna napza juga menjadi Presiden Amerika Serikat.”

Membicarakan tentang anak kandungnya,yang berkulit hitam, Hart mengatakan bahwa ia lebih cemas pada keberadaan aparat yang menegakkan hukum napza dibandingkan cemas atas keberadaan napza. Menurut Hart, efek napza pada tingkat individu bisa diprediksi dan mudah dipahami; bila anda menghisap ganja, anda akan mengalami efek X setelah menggunakan selama Y waktu. Tetapi interaksi pengguna napza dengan polisi adalah kisah yang sama sekali berbeda. ” Saya tidak tahu bagaimana mengamankan anak-anak saya dari polisi, karena ketika polisi berhadapan dengan orang kulit hitam, maka reaksi mereka tidak bisa diprediksi,” demikian majalah Ebony mengutip Hart.

Menurut Hart banyak kasus pembunuhan yang dilakukan oleh polisi konteks penegakkan perang napza. “Dalam semua kasus, aparat mencurigai seseorang sedang mabuk napza atau menjual napza,” tulis Hart. Kampanye berlebihan tentang bahaya penggunaan napza telah “menciptakan sebuah lingkungan dimana mencabut nyawa seseorang diluar prosedur oleh polisi menjadi lebih sering terjadi,” ungkap Hart. Tercipta sebuah situasi dimana aparat Drug Enforcement Agency (DEA) dapat menginterogasi penumpang transportasi publik dan mengambil semua uang yang mereka miliki ketika mereka tidak mau menjawab berbagai pertanyaan aparat.

Keluarga-keluarga kulit hitam seringkali mengalami kejadian seperti ini. Hart memaparkan sebuah data statistik yang menyebutkan bahwa 1 dari 3 individu kulit hitam cenderung menjalani pemenjaraan sedikitnya sekali dalam hidupnya. Realita ini benar-benar mencemaskan Hart: “Saya ayah dari tiga anak lelaki kulit hitam,” ungkap Hart. “Satu diantara anak saya sudah pernah masuk penjara karena napza.” (wp/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *