Berita Nasional Kegiatan

Diskusi IPWL Dalam Pelatihan Relawan Penjangkau

Semarang – Pro kontra menanggapi Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang wajib lapor bagi pecandu narkotika terjadi dalam diskusi pada pelatihan relawan Lembaga Pelopor Perubahan.

Beberapa peserta diskusi menyatakan optimis akan keberhasilan program yang dijalankan oleh Badan Narkotika Nasional bekerjasama dengan institusi kesehatan tersebut.

 

“Pecandu akan memperoleh keuntungan apabila melapor ke institusi kesehatan, karena akan ditangani oleh petugas medis di rumah sakit. Namun tidak boleh ada diskriminasi terhadap pecandu,” ujar Layli, salah satu relawan dari kalangan akademisi.

Pelatihan yang diikuti oleh relawan dari berbagai latar belakang sosial ini rencananya akan dilakukan selama tiga hari, dimulai pada Selasa (17/4). Tiga orang fasilitator menjadi pemateri dalam pelatihan ini.

Diskusi mengenai Institusi Pelaksana Wajib Lapor (IPWL) ini terjadi dalam pembahasan materi kebijakan NAPZA di Indonesia.

“Apabila keamanan data dapat dijamin, dalam arti pihak IPWL tidak akan menyampaikan data ke BNN divisi penangkapan dan pihak kepolisian, kemungkinan besar pecandu akan datang melapor,” ungkap Toni, salah satu peserta dari komunitas pengguna NAPZA, PERFORMA.

Pendapat peserta lain, Nisa, dalam menanggapi IPWL merasa perlu adanya revisi stigma dan adanya komunikasi yang baik antara pecandu dan penyedia layanan.

“Selama ini pecandu mendapat cap buruk atau stigma di masyarakat. Jadi kalau ingin pecandu mau melapor dan mempercayai IPWL, stigma buruk tentang pecandu harus diubah,” katanya. (IH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *