Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

DEA Tolak Manfaat Medis Ganja, Aktivis Siap Perkarakan Pemerintah Federal AS

GuttenbergScott Rozman (46), seorang motivator asal Guttenberg, New Jersey. Di usia 30 tahun ia didiagnosa menderita pembengkakan kelenjar dan angiosarkoma, sejenis kanker agresif dan jarang ditemukan. Dokter mengobati kanker yang bersarang di dada Rozman dengan kemoterapi.

Kemoterapi yang dijalani Rozman demikian kuat efeknya sehingga ia bisa mengalami muntah-muntah 40-50 kali sehari. Rozman tidak bisa memasok cukup makanan bagi tubuhnya selama perawatan. Ia kehilangan 27 kg berat tubuhnya selama 2 bulan pertama kemoterapi. Rozman terancam gagal menyelesaikan rangkaian kemoterapi tersebut.

Dokter memperkirakan usia Rozman tak akan lama, ungkap Rozman pada ABCNews.

Sebagai upaya terakhir, dokter meresepkan ganja medis untuk meredam rasa mual pada pasien kemoterapi seperti Rozman. Rozman mengalami perubahan besar setelah mengkonsumsi ganja. Ia mampu makan dengan normal, dan secara psikologis ia merasa tenang selama menjalani sesi-sesi kemoterapi. Fungsi ganja sebagai anti mual tradisional telah menyelamatkan Rozman.

Faktanya, walaupun 16 negara bagian di AS telah mengizinkan penggunaan ganja medis sebagai bagian pengobatan yang penting, Drug Enforcement Agency (DEA) pada Jumat (8/11) mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ganja sama sekali tidak memiliki manfaat medis. DEA menegaskan, ganja tetap akan dipertahankan berada di Golongan I, bersama-sama dengan heroin dan LSD.

Pernyataan resmi DEA ini dikeluarkan 9 tahun setelah para aktivis ganja medis mengeluarkan petisi untuk meminta reklasifikasi ganja dari Golongan I ke Golongan II atau III, yang dapat digunakan untuk kepentingan medis.

“Sebagai dokter dan peneliti medis, saya merasa keputusan DEA tersebut sangat merugikan,” ungkap Dr. Igor Grant, seorang neuropsikiatris sekaligus Direktur The Center for Medicinal Cannabis Research di University of California-San Diego. “DEA sepertinya menyepelekan informasi positif yang ditemukan tentang ganja. Kebijakan penolakan reklasifikasi ganja lebih dilatarbelakangi oleh kepercayaan bahwa ganja itu berbahaya, dengan merugikan perkembangan pengetahuan medis bagi pasien”.

Penolakan DEA, didasarkan atas surat yang dikeluarkan Administrator DEA Michele Leonhart tertanggal 21 Juni 2011, yang ditujukan pada organisasi-organisasi yang mengajukan petisi di tahun 2002.

“Pernyataan bahwa ganja “tidak terbukti memiliki manfaat medis” sejatinya sangat keliru,” sergah Rob MacCoun, psikolog dan Profesor Bidang Hukum & Kebijakan Publik di Fakultas Hukum University of California Berkeley. “Saat ini telah ditemukan bukti-bukti manfaat medis ganja, sesuai standar bahkan jauh melebihi standar yang dimiliki obat-obatan farmasi lainnya. Dokter-dokter di belasan negara bagian AS yang pernah meresepkan ganja medis, telah melihat dengan jelas manfaat medis ganja pada pasien-pasien mereka”.

Americans for Safe Access, salah satu organisasi yang menandatangani petisi ke DEA, telah merencanakan untuk melaporkan pemerintah Federal AS ke pengadilan, bahkan bila diperlukan ke Mahkamah Agung, atas tindakan pemerintah yang terus menerus mendebat nilai medis dari ganja.

“Jujurnya, kami siap untuk melawan pemerintahan Obama pada isu ini,” tegas Kris Hermens, juru bicara Americans for Safe Access. “Ilmu pengetahuan berpihak pada kami dan kami berharap pengadilan dapat memandang dari sisi yang sama.” (abc/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *