Testimoni

Catatan Seorang Pecandu: Pertarungan Melawan Adiksi Putaw

Saya adalah seorang mantan pecandu putaw* yang saat ini masih berada dalam proses pemulihan diri. Saya menempuh cara berobat jalan di salah satu klinik dokter spesialis kesehatan jiwa  (SpKJ) di kota dimana saya berdomisili. Sampai saat ini saya masih rutin memeriksakan diri di klinik dokter tersebut.

Ketika pertama kali saya datang untuk berobat, dokter bertanya alasan apa yang membuat saya datang ke kliniknya. Saya menjelaskan bahwa tujuan saya datang karena ingin mendapatkan pertolongan terkait masalah adiksi yang saya alami. Kemudian menjelaskan semua latar belakang saya sebagai seorang pecandu putaw selama hampir 10 tahun.

Saya sering sekali keluar-masuk panti-panti rehabilitasi, baik itu panti rehabilitasi medis atau tempat-tempat pengobatan dengan basis keagamaan seperti pondok pesantren. Bahkan saya juga menceritakan masa lalu saya yang pernah masuk penjara sampai 2 kali. Tapi semua hal yang pernah saya alami tersebut tidak membuat saya jera, karena di dalam penjara saya masih tetap dapat mengkonsumsi putaw. Dan ketika saya bebas dari penjara pada tahun 2007 lalu, saya masih tetap menggunakan putaw selama beberapa waktu.

Pertengahan 2008, saya memulai proses pengobatan dengan pemeriksaan fisik yang disertai konseling adiksi dan konseling kondisi psikis. Saat pertama kali saya berkonsultasi, dokter menyarankan saya untuk menggunakan terapi subtitusi opiat Buprenorfin selama beberapa waktu untuk mengurangi rasa sakaw*.

Ketika rasa sakaw sudah mulai berkurang, dokter memberi saya 2 macam obat yaitu Calmlet 2 mg dan Amitriptyline 25 mg sebagai pengganti terapi subtitusi Buprenorfin, dengan tujuan mencegah  saya mengalami ketergantungan Buprenorfin.

Selama saya menggunakan 2 macam obat tadi (Calmlet dan Amitriptyline), dokter selalu mengingatkan saya untuk mematuhi aturan yang diberikan. Ia  menekankan bahwa semua cara pengobatan dengan menggunakan jenis obat-obatan apapun, keberhasilannya tetap tergantung dari kemauan saya untuk pulih. Saya diminta taat terhadap aturan yang diberikan oleh dokter.

Alhamdullillah. Dengan mematuhi aturan yang diberikan oleh dokter, saat ini saya sudah dapat mengurangi dosis obat yang harus saya konsumsi setiap harinya. Saat ini saya hanya cukup mengkonsumsi 1 butir Calmlet dan 1 butir Amitriptyline setiap malam sebelum tidur. Sedangkan saat pertama kali saya berobat, pada minggu pertama saya membutuhkan 30 butir Calmlet dan 30 butir Amitriptyline perhari.

Keadaan ini berjalan sampai beberapa minggu hingga akhirnya saya mulai bisa mengurangi jumlah obat yang harus saya konsumsi. Saya mulai bisa mengontrol diri saya.

Yang awalnya saya harus berkonsultasi seminggu sekali, kemudian berkurang menjadi 2 minggu sekali dengan jumlah obat yang mulai berkurang secara bertahap. Hingga pada akhirnya saya hanya berkonsultasi sebulan sekali dengan jumlah obat yang juga disesuaikan, yaitu Calmlet 2 mg dan Amitriptyline 25 mg, masing-masing sebanyak 30 butir untuk keperluan sebulan. Dengan obat sejumlah itu,saya bisa bertahan selama sebulan dan dapat bekerja normal tanpa merasakan ada sesuatu yang “kurang” pada diri saya.

Jika model pengobatan yang sederhana ini bisa berhasil pada saya, saya berharap teman-teman yang masih menggunakan napza dapat mulai mencoba untuk melakukan perubahan pada diri sendiri sekecil apapun itu.

Yakinlah bahwa hal terkecil sekalipun akan membawa menuju suatu perubahan nyata bagi diri sendiri.Dan tetaplah memegang komitmen pada perubahan yang sedang dilakukan. Semoga kisah saya bermanfaat bagi teman-teman pengguna napza dimanapun berada.(YS)

Diceritakan oleh R di kota S kepada NapzaIndonesia.com

*putaw: heroin kualitas rendah

*sakaw : gejala putus obat

21 thoughts on “Catatan Seorang Pecandu: Pertarungan Melawan Adiksi Putaw”

  1. kl Amitriptyline 25 mg itu…diapotik djual bebas ngak (tidak hrus pakai resep dokter? Trims…berjuang dlm keheningan yg pahit…

  2. Teruskan Perjuangan mu sobat,
    Jangan pernah tergoda lagi

    Saudara senasibmu

  3. Setiap manusia punya jalan yg berbeda-beda. biarlah semuanya berjalan apa adanya.. karna mslh putaw tdk prnh bs terpredikisikan..

  4. bagaimana kalau putaw itu jangan ada lagi di indonesia,jangan sampai ada apa pun itu

  5. tetap semangat yaa,,,,dont ever go back in your past…Allah masih membri kesempatan untuk memperbaiki hidup mu

  6. Gk muna, q dah ngerasa sensasi en sakaw krn putaw..
    So..jika mo stop.. jgn ragu, takut en tanggung..
    hidup terasa indah tanpa putaw..

  7. sy salut dg kptsn km kluar dr jerat putaw yg mmg sgt sgt tdk mudah.jgn mnyerah,trus bjuang sampai km tdk perlu dibantu obat lg.Dekatkan diri kpd Tuhan,minta DIA senantiasa mgandeng tanganmu.Jgn minder krn stiap org punya masa lalunya masing”,hidup adl mlangkah maju,masa lalu adl pelajaran.Tdk pernah ada kt terlambat utk sbuah pertobatan.

  8. smua manusia punya cara kerja otak yg berbeda beda.kalo kalian para jangki berfikir kalo cuma jangki yg mengerti tentang perasaan jangki itu SALAH kawan…orang orang terdekat kalian lah yg paling mengerti perasaan kalian,contoh nya kluarga yg sayang kalian para jangki…..

  9. Niat yg kuat brow.. Soal nya.. Hanya niat , perjuangan, suport keluarga dan kekuatan Do’a.
    Karena wihdrawal / sakau putau itu antara perjuangan hidup dan mati, pisik dan spikis . semua bercampur jadi satu .. Tidak mengenal waktu .. Pagi,siang,sore,malam.. Byk yg berhasil dan tidak sedikit berakhir dlm kegagalan .. Nth itu kembali lg makaw atw pisik tdak kuat menahan dasyat nya sakaw… Berakhir dengan berhentinya napas alias meninggal.. Jujur sy sudah satu tahun dlm proses pemulihan.. Alhamdulillah satu tahun itu bukan waktu yg sebentar all. Mudah” an sy bisa melaluinya. Fase 1 tahun. Fase 3 tahun. Dan fase 10 tahun.. Dan seterusnya.. Say no to drug. Amien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *