Berita Nasional Hukum

Bukan Hanya Kepastian, Fidelis Butuh Kemanfaatan dan Keadilan Hukum

Jakarta, NapzaIndonesia.com – “Telah beberapa bulan kisah Fidelis diberitakan dan dibahas lewat berbagai media, saatnya kisah ini diakhiri dengan baik oleh Majelis Hakim dengan menyatukan kembali keluarga yang harus terpisah karena hukum narkotika kita yang paranoid ini,” ujar Yohan Misero, Analis Kebijakan Narkotika LBH Masyarakat melalui rilis pers.

Fidelis Ari Sudarwoto menjalani proses hukum karena didapati menanam 39 batang pohon ganja yang kemudian ia ekstrak untuk digunakan mengobati penyakit langka istrinya. Yeni Riawati, istri Fidelis didiagnosa menderita Syringomyelia; penumpukan cairan di dalam sumsum tulang belakang. Pegawai negeri sipil yang berdinas di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat ini, ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sanggau pada 19 Februari 2017 lalu.

Fidelis beritikad baik, berkonsultasi dengan Badan Narkotika Nasional untuk mencari solusi atas upaya pengobatan yang ia tempuh untuk istrinya. Sayangnya, niat baik Fidelis direspon dengan penegakkan hukum positif oleh BNN. Langkah BNN membawa kasus Fidelis ke jalur hukum berakibat terhentinya suplai  ekstrak ganja yang dibutuhkan Yeni untuk menangani penyakitnya, hingga akhirnya Yeni meninggal dunia pada 25 Maret 2017.

LBH Masyarakat berharap putusan yang akan dijatuhkan kepada Fidelis Ari Sudarwoto pada Rabu, 2 Agustus 2017 esok, dapat mengembalikan Fidelis pada kedua anaknya yang juga telah kehilangan ibunda.

“Sikap kaku BNN dalam memandang UU Narkotika dalam kasus Fidelis, secara tidak langsung telah membuat sebuah keluarga bahagia kehilangan sosok ibu yang mereka cintai. Amat disayangkan upaya seorang suami mempertahankan nyawa istrinya harus diproses hukum sejauh ini,” sesal Yohan.

Yohan juga tak lupa mengungkapkan apresiasi pada  pihak Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat yang menuntut jauh lebih kecil dari pidana minimum pasal yang dinyatakan terbukti oleh Jaksa Penuntut Umum.” Fidelis dituntut lima bulan penjara dan denda 800 juta rupiah subsider satu bulan penjara. Jaksa Penuntut Umum menuntut Fidelis dengan pasal 111 ayat 2 UU Narkotika yang memiliki pidana minimum 5 tahun penjara.

“Angka tuntutan ini menunjukan betapa besarnya aspek kemanusiaan dalam kasus ini. Jaksa bisa saja melangkah lebih jauh dengan menuntut bebas, lepas, atau angka tuntutan yang lebih kecil lagi dengan interpretasi peraturan yang lebih progresif. Namun kami tetap menghargai apa yang telah dilakukan Kejaksaan karena sistem kerjanya yang ada di bawah komando dan bergerak dalam rel penegakan hukum yang cenderung positivistik,” terang Yohan.

Menurut Yohan, besar harapan masyarakat luas akan turun putusan yang manusiawi dari Majelis Hakim dalam kasus Fidelis.  Di media sosial, kisah pengorbanan Fidelis dibagikan secara luas dan mendapatkan simpati banyak orang.

“Hukum punya tiga tujuan, tidak hanya soal kepastian, namun juga soal kemanfaatan dan keadilan. Oleh karena itu, kami berharap aspek keadilan tidak dilupakan oleh Majelis Hakim ketika memutus kasus ini sebagaimana irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” yang ada di setiap putusan. Cinta seharusnya dirayakan,bukan dipenjarakan,” tutup Yohan .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *