Berita Lembaga Berita Nasional

Budi Risset: Layanan Buprenorfin Wajib Diregulasi Dengan Baik

Pernas AIDS IV 2011

Yogyakarta – Langkanya peredaran heroin atau putaw di pasar gelap membuat tidak sedikit pengguna narkotika jenis opiat beralih menggunakan substitusi opiat sintetis .

Selain methadon yang sudah disiapkan pemerintah di beberapa rumah sakit dan puskesmas. Para pengguna napza ada juga yang memilih untuk menggunakan buprenorfin, yang di Indonesia lebih populer dengan merek dagang subutex dan suboxon.

Maraknya para pengguna napza menggunakan substitusi opiat yang dilegalkan pemerintah ini, membuat buprenorfin mejadi salah satu opiat yang digandrungi para pengguna napza.

“Sayangnya fakta di lapangan, buprenorfin yang seharusnya digunakan secara oral ternyata justru disalahgunakan cara penggunaannya oleh para pengguna napza itu sendiri dengan cara disuntikkan.” ungkap Budi Risset, salah satu pegiat Harm Reductions di ruang Kalasan, Hotel Inna Yogja dalam kegiatan Pernas AIDS IV 2011, Rabu (5/10).

Menurut Budi Risset, penggunaan buprenorfin ini ternyata tidak ditunjang oleh regulasi yang ketat dari petugas kesehatan seperti halnya penggunaan methadon yang selalu diawasi secara ketat.

Selain itu, tidak sedikit dokter yang membiarkan penyalahgunaan buprenorfin, demi kepentingan ekonomi semata. Banyak bandar yang ditangkap, tetapi dokter-dokter tersebut dibiarkan saja.

“Disini saya melihat bahwa masih banyak dokter yang bekerja tidak dengan hati, namun hanya melihat pecandu dari sisi uangnya saja. Saya juga seorang mantan pecandu, saya sangat prihatin melihat ini semua.” keluhnya.(Got/Gen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *