Opini

Bila Freddy Budiman Bercerita Jujur …

Penulis: Yvonne Sibuea*

Jagad pemberitaan nasional Indonesia terguncang, belum luruh kontroversi eksekusi mati yang kian memanas beberapa hari jelang pelaksanaan; kini kian riuh oleh beredarnya tulisan Haris Azhar, Koordinator KontraS yang berjudul “Cerita Busuk dari Seorang Bandit”.

Sumber tulisan Haris disebutkan berasal dari sebuah wawancara dengan Freddy Budiman pada tahun 2014, ketika Haris berkesempatan menemui terpidana mati tersebut di Lapas Nusakambangan.

Kisah ini diunggah pada laman twitter @KontraS tertanggal 28 Juli 2016, dimulai pada pukul 20.22 WIB dalam bentuk penggalan-penggalan tangkapan layar. Tulisan tersebut berisi pengakuan Freddy Budiman tentang keterlibatan instansi pemerintah dalam memuluskan usaha ilegalnya mengedarkan narkoba di Indonesia.

Opini masyarakat beragam, ada yang serta merta percaya dan menganggap hal-hal yang diungkap tersebut tidak lagi mengejutkan, melainkan sudah menjadi rahasia umum; ada pula yang lantas menghujat Haris Azhar dan menudingnya memiliki kepentingan tersembunyi.

Kapolri Komjen Pol Tito Karnavian pun segera merespon dengan mengutus Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar untuk menemui Haris Azhar demi kepentingan konfirmasi berita, seperti diberitakan oleh Tempo.co pada 29 Juli 2016 (Usut Tudingan Freddy, Kepala Polri Minta Boy Temui Haris Kontras). Tak ketinggalan Kepala BNN Budi Waseso meminta Haris Azhar untuk membuktikan kebenaran cerita yang ditulisnya, seperti yang diberitakan oleh Tempo.co pada 29 Juli 2016 (Buwas Minta Haris Azhar Buktikan Cerita Freddy Budiman)

Radio Elshinta pada 29 Juli 2016 pukul 16.42 WIB melalui laman twitter @RadioElshinta, merilis jajak pendapat untuk mengetahui reaksi masyarakat terhadap berita “Pengakuan Freddy Budiman kepada Koordinator KontraS”. Hasil jajak pendapat yang dibuka selama 2 jam adalah sebagai berikut: 78% percaya, 9% tidak percaya, 13% ragu-ragu, jumlah responden 394 orang.

Di luar berbagai kontroversi tentang kebenaran isi pengakuan tersebut, yang mungkin prosesnya akan memakan waktu panjang, serta bisa jadi akan berakhir dengan berbagai versi. Mungkin lebih baik kita menelaah baris demi baris “Cerita Busuk dari Seorang Bandit”.  Karena sudah banyak pihak yang saling mendebat dan beradu urat. Tidak ada salahnya sedikit ‘anti mainstream’ dengan mengambil posisi berandai-andai.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka individu-individu aparat yang ikut bekerjasama membantu bisnis gelapnya sesungguhnya lebih busuk dari seorang bandit. Tentu. Kita tidak lagi terkejut bila Freddy Budiman melakukan berbagai manuver untuk tetap menjalankan bisnis narkoba, walau telah berada di balik jeruji LP Cipinang. Bukankah dia memang memposisikan dirinya sebagai seorang bandit? Dan Freddy tidak menyangkal itu. Ia terang-terangan melanggar hukum, dan mengambil risiko menjadi seorang bandar demi keuntungan finansial.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka nelangsalah 195 juta masyarakat Indonesia yang mempercayakan pemberantasan narkoba pada institusi-institusi negara. Kepercayaan rakyat dikhianati dengan pahit, kantung dikuras habis untuk terus menerus mendukung perang narkoba melalui peningkatan anggaran penegakan hukum.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, semakin banyak narkoba yang beredar, maka makin tebal lah kocek aparat yang melindungi bandar. Anda yakin mereka ingin narkoba musnah?

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka sikap masyarakat Indonesia layak diumpamakan bak seorang istri setia yang menelan mentah-mentah semua janji palsu suaminya, walau berbagai informasi beredar di luaran bahwa sang suami terus menerus menyelingkuhinya. “Bu, sudah tahu bahwa suami ibu sering selingkuh?,” demikian suara-suara yang beredar. Maka si istri menjawab lantang, “Ah, basi kau. Itu cerita lama. Itu sudah rahasia umum…. ”  Tanpa ada upaya untuk mendamprat sang suami, atau meninggalkan suami brengsek tersebut.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka biaya satu butir pil ekstasi untuk dapat mencapai konsumennya adalah 40 kali harga dasar. Itulah konsekuensi pasar gelap. Harga melangit harus dibayar konsumen, sementara daftar penerima keuntungan finansial berturut-turut adalah sebagai berikut: pabrik ekstasi, Freddy Budiman beserta kurir-kurirnya, aparat institusi pemerintah yang ikut membantu kelancaran bisnis. Sementara negara yang ketempuhan,  harus mengalokasikan pajak rakyat untuk membiayai BNN, Polri, dan Bea Cukai dalam “perang-perangan” memberantas narkoba; harus membiayai ribuan pengguna narkoba yang dipenjara dalam lapas/rutan; serta harus mengeluarkan Rp. 200 juta per individu bandar yang dihukum mati. Betapa tidak adilnya bagi rakyat. Ya mau bagaimana lagi, yang diperlakukan tidak adil justru asyik-asyik saja. Bahkan tidak merasa sama sekali.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka yang ingin ia tekankan adalah peredaran narkoba bisa berjalan lancar karena ada faktor korupsi, dan pelakunya adalah para pengayom yang justru memegang mandat untuk memberantas narkoba.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka kasus hukumnya bisa jadi merupakan kasus paling unik, karena organisasi sepiawai KontraS pun tidak dapat melacak keberadaan pledoinya.

Bila Freddy Budiman bercerita jujur, maka ia memilih orang yang tepat untuk memberikan pengakuan, karena hanya orang nekad atawa bernyali banteng seperti Haris Azhar yang berani membeberkan bola panas yang kini membakar ketenangan banyak pihak yang merasa terlibat.

Namanya juga hanya berandai-andai, siapa juga yang bakal percaya Freddy Budiman bercerita jujur? Bukankah dia seorang bandit?

  • Yvonne Sibuea adalah pemerhati kebijakan napza, Direktur Pelopor Perubahan Institute