Opini

Berbagai Pendekatan Terhadap Kebijakan Napza dan Epidemi HIV Asia

Penulis: Dr. Alex Wodak*

Seperempat abad lalu, Asia Pasifik, wilayah yang dihuni setengah populasi bumi, berada pada tahap risiko tinggi menyebarnya epidemi HIV yang berawal pada pengguna napza suntik ke populasi umum.
Dapat dibayangkan betapa besar dampak kesehatan, sosial dan ekonomi yang akan muncul. Thailan menjadi negara berkembang pertama di dunia yang mengalami generalisasi epidemi HIV.

HIV yang awalnya menginfeksi populasi pengguna napza suntik, kemudian menyebar pada populasi pekerja seks, pasangan seks, dan pasangan-pasangan lain dari pasangan seks. Epidemi HIV di Thailand dimulai dari populasi narapidana yang menggunakan napza suntik, tetapi masalah ini tidak terdeteksi selama para narapidana masih berada dalam penjara.

Kemudian para narapidana di Thailand dianugerahi pembebasan sebagai bagian dari amnesti pihak Kerajaan Thailand untuk memperingati ulang tahun Raja Thailand ke-60, sehingga tanpa disadari sejumlah besar individu yang baru saja terinfeksi HIV dan berada pada tahap rentan menularkan virus, berbaur dengan masyarakat umum.

Peningkatan Drastis pada Prevalensi HIV
Hanya dalam waktu 10 bulan, terjadi peningkatan prevalensi HIV pada pengguna napza suntik, dari 1% menjadi 40%. Dalam beberapa tahun kemudian, satu dari enam calon tentara dan satu dari delapan perempuan hamil di barat laut Thailand terinfeksi HIV.

HIV tidak memandang batas-batas negara, sehingga epidemi ini segera menyebar pada pengguna napza suntik dan disebarkan oleh pengguna napza suntik di negara-negara tetangga Thailand.
Pengendalian HIV di Asia

Pada awal 1990-an, saya menghadiri pertemuan yang diselenggarakan World Health Organisation (WHO) di Kuala Lumpur, Malaysia dengan subjek pengendalian HIV pada pengguna napza suntik di Asia. Setiap negara di wilayah Asia mengirimkan perwakilan.

Pertemuan dengan subjek ini merupakan pertemuan resmi pertama di Asia, pada saat banyak negara di wilayah Asia masih dikendalikan oleh pemerintahan komunis. Satu persatu delegasi, membaca dengan hati-hati, kata per kata dari pidato yang telah mereka persiapkan dan disetujui negara masing-masing.

Sangat jelas bahwa perwakilan negara-negara telah diperintahkan untuk hanya membacakan pidato yang telah disetujui secara resmi dan tidak mengeluarkan komentar-komentar lain. Pertemuan berjalan dengan lambat. Setiap perwakilan negara, baik komunis maupun kapitalis, Hindu, Buddha, Muslim ataupun ateis, berargumen bahwa HIV tidak akan pernah menjadi masalah di negara mereka, dan kalaupun satu saat nanti HIV menjadi masalah, negara mereka tidak akan bersedia menerima konsep “pengurangan dampak buruk”. Saya merasa sangat terpukul melihat hasil pertemuan ini, sehingga serta merta saya kembali ke kamar lebih awal.

Mendukung Konsep Pengurangan Dampak Buruk
Tetapi seperempat abad kemudian, tiap tiap negara utama di Asia kini telah menerima konsep pengurangan dampak buruk napza, serta melaksanakan dan memperluas program distribusi jarum suntik steril dan program substitusi opiat (metadon dan buprenorfin) pada komunitas pengguna napza maupun di penjara-penjara.

Individu yang berhasil dijangkau oleh program masih terbatas, tetapi meningkat sedikit demi sedikit setiap tahunnya. Tetapi yang tidak berubah adalah sikap bertahan ASEAN yang tidak menyetujui konsep pengurangan dampak buruk napza. ASEAN masih menetapkan target bagi seluruh anggotanya, “Bebas Napza pada 2015”. Target ini kemudian diundur menjadi “Bebas Napza pada 2020”.

Satu demi satu, berbagai badan PBB yang berkaitan dengan kebijakan napza mengubah posisi, dari menentang menjadi pendukung konsep pengurangan dampak buruk napza. Saat ini berbagai badan PBB tersebut mendukung konsep pengurangan dampak buruk napza dalam berbagai tingkatan dukungan.

Sekelompok kecil individu dan organisasi di Asia juga mengalami perubahan ini. Sekitar 25 orang Asia dan sekelompok individu dari luar Asia bekerja keras untuk memperjuangkannya. Kira-kira 50 orang termasuk para doktor, petugas klinis, peneliti, pengguna napza, aktivis serta pejabat pemerintah di tingkat nasional dan internasional. Tetapi perjuangan belum berakhir.

Setelah perjuangan untuk mengurangi dampak buruk napza di Asia, muncullah perjuangan untuk mengurangi dampak buruk kebijakan napza. Saat ini kian berkembang pemahaman publik bahwa pelarangan napza telah gagal secara keseluruhan dan telah menghasilkan efek-efek negatif yang sangat parah, yang sebenarnya tidak pernah diharapkan.

Sementara pelarangan napza telah diterapkan secara besar-besaran, pasar gelap napza justru kian meluas dan berbahaya. Kematian, penyakit, kejahatan, korupsi dan kekerasan terus meningkat.
April 2016 mendatang Sesi Khusus Sidang Umum PBB tentang Napza (UNGASS on Drugs) yang diselenggarakan di New York, akan mempertimbangkan apa yang perlu dilakukan terhadap konsensus napza internasional yang sudah compang camping.

Masih Banyak Hal yang Perlu Dilakukan
Di luar perkembangan kebijakan pengurangan dampak buruk napza di Asia beberapa dekade belakangan ini, masih banyak hal yang perlu dilakukan. Para pejuang tidak menyerah begitu saja, terutama ketika kehidupan masyarakat luas menjadi taruhannya. Pertarungan untuk melindungi kesehatan masyarakat bertransformasi menjadi peperangan untuk melindungi hak asasi manusia.

Bukan suatu kebetulan bila HIV mengancam kebanyakan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, pekerja seks dan pengguna napza suntik. Perilaku-perilaku ini telah didefinisikan sebagai kejahatan dan sebagai konsekuensinya mereka dihadapkan pada hukuman berat.

Telah jelas bahwa berbagai undang-undang yang mengkriminalkan ini tidak efektif dalam mencapai tujuan-tujuan mereka dan memakan banyak biaya, sekaligus juga bersifat tidak wajar dan tidak adil. Kita sekarang menyaksikan terurainya pelarangan napza global secara perlahan, terutama di Amerika. Hanya masalah waktu sebelum reformasi kebijakan napza akan dimulai di Asia.

Jadi, pertarungan yang diawali dengan upaya-upaya mencegah penyebaran HIV pada pengguna napza dan dari pengguna napza di Asia, secara perlahan mengalami metamorfosis menjadi berbagai tujuan lain seiring berjalannya waktu. Setiap kemenangan kecil menunjukkan seberapa jauh jalan yang harus ditempuh.

Saya tidak dapat mengakhiri kisah perjalanan yang luar biasa ini tanpa berterimakasih dan memberikan penghargaan pada rekan-rekan dan kolega-kolega yang juga luar biasa di berbagai belahan dunia, serta mengenang bahwa beberapa dari orang-orang luar biasa ini tidak hidup cukup lama untuk dapat menyaksikan kemenangan-kemenangan kecil yang mereka perjuangkan. (Sumber: Biomedcentral/Yvonne Sibuea).

  • Dr. Alex Wodak saat ini menjabat sebagai Presiden Australian Drug Law Reform Foundation.
    Ia adalah seorang dokter dan pernah menjabat sebagai Direktur dari Alcohol and Drug Service di St Vincent’s Hospital sejak 1982 hingga ia pensiun pada 2012. Dr. Wodak pernah menjabat sebagai Presiden International Harm Reduction Association periode 1996-2004. Ia memberikan asistensi pada terbentuknya program distribusi jarum suntik steril (1986) dan pusat menyuntik napza dengan supervisi (1999) yang pertama di Australia, ketika kedua program tersebut belum dikategorikan sebagai legal.