Kebijakan Global Kegiatan

Australia Berhasil Turunkan Prevalensi HIV pada Pengguna NAPZA Suntik Menjadi dibawah 2%.

IMG04173-20100406-1517Sydney – King Cross adalah sebuah kawasan di Sydney, Australia yang cukup menarik untuk dikunjungi.

Di lokasi yang cukup ramai ini, kita akan dengan mudahnya menemukan Medically Supervised Injecting Centre (MSIC) atau ruang penyuntikan steril bagi para pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) yang diawasi langsung oleh tenaga medis yang sangat terlatih.

Fasilitas ini disediakan sebagai respon pemerintah kota Sydney atas tingginya kasus overdosis di wilayah Kings Cross yang merupakan pusat transaksi seks komersial dan penggunaan NAPZA.

Sejak berdiri pada 2001 silam, MSIC telah mendapat dukungan positif dari masyarakat di sekitarnya, baik pendatang maupun penduduk asli Kings Cross.

Sejak kehadiran MSIC ini, telah terjadi penurunan sebesar 80% atas panggilan ambulans dari kawasan Kings Cross. Hal positif lainnya dari MSIC adalah terdaftarnya 80% pengguna NAPZA lokal Kings Cross pada layanan tersebut.

Sebagai negara yang dikenal paling humanis dalam merespon persoalan NAPZA, di era 1980-an, Pemerintah Australia mengambil tiga pilar kebijakan, yakni Supply Reduction, kebijakan ini diambil dalam rangka memutus mata rantai peredaran NAPZA. Demand Reduction, diambil guna mengurangi minat masyarakat menggunakan NAPZA, serta Harm Reduction untuk mengurangi dampak buruk penggunaan NAPZA bagi orang yang sudah berada dalam ketergantungan NAPZA.

Penambahan pilar ketiga yaitu Harm Reduction pada kebijakan NAPZA Australia ini diinisiasi oleh PM Bob Hawke pada 1985. Dimana saat ia mengakui kepada publik bahwa anak perempuannya adalah seorang pecandu heroin.

Inisiasi Bob Hawke ini segera diwujudkan menjadi Strategi Nasional Australia dalam menangani masalah NAPZA.

Salah satu kebijakan kesehatan masyarakat Australia yang paling berhasil di dunia adalah respon penyediaan jarum suntik steril bagi pengguna NAPZA suntik yang dimulai sejak tahun 1987 saat epidemi HIV baru mulai merebak.

Sebagai buah respon cepat tersebut, prevalensi HIV pada pengguna NAPZA suntik di Australia hanya berada pada kisaran angka 1 – 2 %. Angka ini merupakan angka terendah di dunia dan hingga saat ini menjadi contoh keberhasilan paling signifikan Australia dalam perencanaan kebijakan publik.

Sementara di Indonesia, menurut data Kementrian Kesehatan RI 2009, prevalensi HIV pada pengguna NAPZA suntik berada pada angka 40.2 %.

Pengguna NAPZA suntik di Indonesia merupakan populasi yang sangat berisiko terpapar penularan HIV karena tidak meratanya layanan jarum suntik steril di wilayah-wilayah yang rawan penggunaan NAPZA.

Kebijakan distribusi jarum suntik steril masih terus menerus memicu perdebatan sengit pada masyarakat Indonesia walaupun program ini telah dilaksanakan sejak tahun 1998 oleh Yayasan Hati-hati, Bali.(YS/Gen)