Berita Internasional Kebijakan Mancanegara

AS Tingkatkan Akses Buprenorfin untuk Ketergantungan Opiat

Washington D.C – Pemerintah AS meningkatkan batasan jumlah pasien yang dapat menerima terapi buprenorfin dari seorang dokter. Upaya ini merupakan langkah tepat untuk menangani ketergantungan opiat dan gejala putus obat, tetapi masih belum cukup untuk mengatasi tingkat overdosis yang melonjak pesat.

Minggu lalu, pemerintahan Presiden Obama meningkatkan jumlah maksimal pasien yang dapat menerima resep buprenorfin dari dokter, meningkatkan pembatasan dari 100 orang ke 275 orang. Sebagai antagonis opiat parsial, buprenorfin digunakan untuk merawat ketergantungan dengan mencegah terjadinya gejala putus obat, sembari memproduksi efek mirip morfin.

Sementara kematian terkait napza meningkat di AS, peningkatan pembatasan jumlah penerima resep buprenorfin sebenarnya telah lama terlambat; lebih dari 29.000 orang meninggal karena overdosis opiat pada 2014, meningkat 14 % dari tahun sebelumnya. Kematian akibat overdosis heroin meningkat 39% antara 2012-2013. Peningkatan pesat ini membawa angka kematian akibat keracunan opiat melampaui angka kematian akibat kecelakaan mobil.

Perawatan menggunakan buprenorfin menurunkan angka kematian akibat overdosis opiat, menurunkan biaya perawatan serta menurunkan risiko penyebaran virus melalui darah. Mulai Agustus 2016, diperkirakan akan ada 10.000-70.000 pasien baru yang akan memiliki akses terhadap buprenorfin. Perawatan substitusi alternatif juga telah ada, pada 2012, lebih dari 311.000 orang menerima perawatan metadon . Walaupun merupakan layanan yang terpercaya, ketersediaan perawatan substitusi opiat masih belum mencukupi; sedangkan di AS sendiri kira-kira ada 2,6 juta orang dengan ketergantungan napza jenis heroin atau pereda nyeri berbahan opiat.

Walaupun telah ada peningkatan atas pembatasan pasien, masih terlalu sedikit dokter yang mau meresepkan buprenorfin. Lea Winerman dari Asosiasi Psikologi Amerika (American Psychology Association) menyebut hal ini sebagai “kesenjangan sains dan praktik dalam dunia perawatan napza”. Hal ini disebabkan oleh “sejarah panjang memperlakukan ketergantungan napza sebagai kegagalan moral, alih-alih sebagai masalah kesehatan.” Industri asuransi kesehatan jarang menjamin perawatan ketergantungan napza; serta sistem lisensi yang buruk antar negara bagian yang tidak mengharuskan konselor adiksi menempuh pelatihan yang memadai.

Sejarah AS yang menggunakan sistem pemidanaan dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat terbukti tidak efektif. Menurut data “Count the Costs”, praktik ini korosif secara sosial, dan juga mempromosikan “stigmatisasi dan diskriminasi”. Mentalitas mengejar “mimpi ala Amerika”, yang mensyaratkan kerja keras dan kemauan sebagai modal perbaikan diri, membawa pada anggapan bahwa pengguna napza adalah individu berkemauan lemah, sehingga harus dipaksa untuk berubah.

Tidak ada satu alasan pun untuk mencegah pengguna napza mendapatkan akses terhadap buprenorfin, dan bentuk-bentuk pengobatan lainnya yang dapat ditawarkan. Akan tetapi, kultur individual masyarakat AS yang menstigma ketergantungan napza, ketakutan beralihnya satu ketergantungan pada ketergantungan lain, dan kemungkinan penyalahgunaan substansi substitusi, berkontribusi pada lambatnya perkembangan buprenorfin.

Awal minggu ini, Senat AS mensahkanPeraturan Komprehensif tentang Adiksi dan Pemulihan (Comprehensive Addiction and Recovery Act-CARA), yang akan memperbolehkan perawat dan asisten dokter untuk meresepkan buprenorfin. Peraturan ini menunggu ratifikasi Presiden, dan bila telah diratifikasi, maka peraturan ini akan meringankan krisis opiat di AS yang sudah berada dalam situasi terburuk. Penting untuk menghargai pembatasan terbaru buprenorfin sebagai langkah awal ke arah yang baik, sementara terus mendorong reformasi yang lebih progresif. (Talking Drugs/Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *