Berita Internasional Kebijakan Mancanegara Riset

AS Alokasikan 2,7 Juta Dolar untuk Penelitian Kanabinoid Sintetis

Little Rock- NapzaIndonesia.com Sering dipromosikan sebagai alternatif murah pengganti ganja, ganja sintetis justru sangat berbahaya bagi kesehatan, demikian hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Trends in Pharmacological Sciences. Peneliti dari University of Arkansas for Medical Science  (UAMS) memberi peringatan terhadap penggunaan kanabinoid sintetis, yang dipromosikan secara keliru sebagai alternatif ganja yang lebih aman. Nama populer produk-produk yang mengandung kanabinoid sintetis ini bervariasi, di antaranya Spice atau K2, sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama dagang Tembakau Gorilla.

Artikel ilmiah berjudul “Synthetic Pot: Not Your Grandfather’s Marijuana,” menjadi sampul muka jurnal Trends in Pharmacological Sciences. Artikel ini ditulis oleh peneliti UAMS, Paul Prather, Ph.D, bekerja sama dengan William Fantegrossi, Ph.D., Benjamin Ford, Ph.D., dan Sherrica Tai, Ph.D.

Prather, seorang farmakologis selular dan molekular mengatakan, bahwa pemasaran dengan promosi palsu tentang keamanan produk Spice dan K2 telah menyebarkan salah persepsi yang meluas. “Kami ingin para ilmuwan dan masyarakat umum mengetahui bahwa produk ini sama sekali tidak aman,” tegasnya.

Kanabinoid sintetis adalah senyawa psikoaktif yang kerap disemprotkan pada bagian tanaman kering yang dirajang sedemikian rupa sehingga menyerupai ganja alami. Kanabinoid sintetik juga dijual dalam bentuk bubuk, tablet dan kapsul.

Senyawa sintetis menyasar reseptor yang sama dengan reseptor ganja dalam tubuh manusia,  tetapi struktur senyawa sintetik berbeda dengan ganja alami dan memiliki efek berbahaya bagi tubuh. Efek penggunaannya mengakibatkan psikosis, kejang-kejang, ketergantungan dan kematian. Sementara, ganja alami mudah diidentifikasi dalam tes napza, senyawa kanabinoid sintetis tidak mudah dideteksi karena begitu banyak perbedaan struktur di antara keduanya. Dalam jurnal tersebut, dilaporkan terjadi 20 kematian akibat penggunaan  kanabinoid sintetik yang terjadi antara 2011 hingga 2014.

Prather, seorang profesor di Department of Pharmacology and Toxicology UAMS College of Medicine, memimpin penelitian besar pertama tentang kanabinoid sintetis. Tahun lalu, tim peneliti antar disiplin pimpinan Prather menerima dana 2,7 juta dolar AS dari National Institutes of Health (NIH) dan National Institute on Drug Abuse (NIDA) untuk menentukan tingkat toksisitas kanabinoid sintetis. Upaya ini dilakukan untuk memberikan informasi akurat pada para pemangku kebijakan sebagai dasar pertimbangan penyusunan regulasi produk-produk berbahan kanabinoid sintetis.

Selama lima tahun ke depan, tim peneliti UAMS akan mengeksplorasi mengapa senyawa-senyawa sintetis lebih toksik dari ganja, walaupun keduanya mengaktifkan reseptor-reseptor kanabinoid yang sama pada otak manusia. Tim peneliti akan mempelajari efek senyawa-senyawa buatan tersebut pada sel-sel tubuh manusia dan tikus melalui percobaan di laboratorium. Penelitian akan dilakukan juga pada konsumen kanabinoid sintetis, dan pasien pengunjung UGD karena kasus konsumsi kanabinoid sintetis.

Walaupun bahaya kanabinoid sintetik telah diketahui, Prather berharap para ilmuwan akan meneruskan  mencari potensi teraupetik kanabinoid sintetis.

“Solusinya adalah memisahkan hal-hal baik dari yang buruk, dan akan memerlukan penelitian panjang untuk menemukan kanabinoid sintetis yang aman dan efektif,” ungkap Prather. (Sumber: uamshealth.com, Yvonne Sibuea)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *