Advokasi Berita Internasional

ANPUD Tuntut Respon Internasional Dalam Tangani Infeksi Virus Hep C

Bangkok – Menyambut Hari Hepatitis Sedunia Jaringan Pengguna NAPZA Wilayah Asia atau Asian Network of People Who Use Drugs (ANPUD) para aktivis membuat sebuah petisi atau kesepakatan berisi enam tuntutan utama di Bangkok pada Kamis (28/7).

Enam tuntutan dalam petisi tersebut adalah:

  1. Menyertakan infeksi virus Hepatitis C (HCV) menjadi salah satu penyakit yang menjadi perhatian negara.
  2. Mengembangkan kebijakan dan program kerja terkait pencegahan, diagnosa, perawatan dan pengobatan infeksi Hepatitis C.
  3. Memperkuat infrastruktur serta kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan perawatan Hepatitis C.
  4. Menjamin bahwa akses perawatan dan pengobatan Hepatitis C terjangkau oleh masyarakat di negara masing-masing.
  5. Memprioritaskan usaha Pengurangan Dampak Buruk Penggunaan NAPZA atau Harm Reduction dan Terapi Substitusi Oral bagi pengguna NAPZA suntik.
  6. Memasukkan pengetahuan dan pendidikan tentang Hepatitis C sebagai salah satu penyakit menular dalam komponen pendidikan nasional.

Petisi ini dibuat untuk mendesak badan-badan PBB, institusi kesehatan masyarakat dan pembuat kebijakan, pemerintah, organisasi internasional dan Perusahaan Farmasi, agar segera bertindak.

Hepatitis B dan C merupakan salah satu penyakit menular yang menyebabkan kematian, dan hingga kini belum dapat disembuhkan. Jumlah orang yang terinfeksi Hepatitis B (HBV) di seluruh dunia mencapai dua miliar, 350 juta diantaranya mencapai stadium kronis. Diperkirakan 600 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat dari konsekuensi akut HBV.

Setiap tahunnya, diperkirakan 3-4 juta orang terinfeksi HCV, dengan 180 juta orang berisiko klinis terinfeksi secara kronis sampai mengalami sirosis hati dan kanker hati. Lebih dari 350 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena HCV.

Epidemi HCV di kalangan pengguna NAPZA suntik (penasun) lebih tinggi dibandingkan dengan epidemi HIV, karena HCV ditularkan melalui darah. Pengguna NAPZA suntik memiliki resiko yang tinggi karena pola berbagi penggunaan jarum dan peralatan menyuntik NAPZA. Laporan dari berbagai negara termasuk Estonia, India, Indonesia, Lithuania, Luxemburg, Mauritius, Nepal, Pakistan, Rusia, Swiss, Thailand, Rusia dan Ukraina menyatakan bahwa prevalensi penularan HCV di kalangan pengguna NAPZA suntik di negaranya cukup tinggi. Sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa prevalensi infeksi HCV di kalangan pengguna NAPZA suntik seluruh dunia mencapai 50%.

Pada saat disenggarakannya World Health Assembly (WHA) yang ke 63 tahun 2010 lalu, diakui untuk pertama kalinya mengenai dampak global dari infeksi HBV dan HCV. Rancangan program untuk pencegahan, diagnosa, pengobatan dan membangun kesadaran akan infeksi ini telah disusun oleh WHA. Untuk mengatasi masalah ini, resolusi yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kebutuhan, kemudian merespon secara global dan terpadu dengan dukungan sumber daya yang memadai.

Hari Hepatitis Sedunia diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran nasional maupun internasional terhadap masalah infeksi Hepatitis. Sejak ditetapkannya resolusi ini pada 2010 lalu, tidak banyak kemajuan yang terjadi di wilayah Asia.(IH/YS)