Opini

Alternatif terhadap Kebijakan Napza AS yang Gagal dan Mahal

Penulis: Joanne Csete*

Biaya di luar kewajaran yang menjadi konsekuensi kebijakan napza punitif sebenarnya dapat menjadi suatu alasan kuat untuk memperjuangkan perubahan. Apa manfaatnya bila kita berinvestasi pada perawatan napza berkualitas baik?

Perang terhadap napza merupakan kegagalan yang sangat mahal, label harganya  dapat diperhitungkan dengan mengikutsertakan biaya-biaya tidak langsung yang jauh melebihi 100 miliar dolar AS (sekitar Rp. 1,3 triliun), yaitu biaya yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat untuk mengendalikan suplai napza ilegal pada skala global. Implikasi penuh dari pengeluaran sia-sia ini seharusnya menjadi faktor argumen bahwa penentuan ulang arah kebijakan napza yang radikal sangatlah dibutuhkan.

Yang terjadi, sebagian besar dari 100 miliar dolar dana penanganan napza di Amerika Serikat digunakan untuk menangkap, memroses dan memenjarakan pengguna napza non-kekerasan. Tetapi angka ini jauh dilampaui oleh nilai uang yang beredar di pasar napza gelap sebagai akibat pemberlakuan perang napza, yang kira-kira berjumlah 330 miliar dolar AS (sekitar Rp. 4,3 triliun), sebuah sumber uang luar biasa besar yang menjadi ajang korupsi dan kekacauan. Program-program penghentian penggunaan napza berbasis militer di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, serta di Asia, telah mengakibatkan ratusan ribu kematian, tergusurnya sejumlah besar manusia, dan degradasi lingkungan yang masif. Bagian dunia belahan selatan juga kehilangan kesempatan berinvestasi untuk sistem ekonomi dan kesehatan mereka, ketika mereka harus membayar pajak yang digunakan untuk membiayai perang napza, seringkali di bawah tekanan Amerika Serikat.

Kegagalan kebijakan perang napza sangat jelas, dan merupakan hal yang penting bagi kita untuk menarik diri dari ideologi yang melatarbelakangi perang napza. Untuk menggantikan ‘perang’ yang mahal melawan produsen dan penyelundup napza ilegal, juga para pengedar napza miskin yang bergerak di garis depan, kita perlu bekerja untuk mengurangi kebutuhan  problematik  terhadap napza di antara para konsumen di rumah, termasuk memastikan bahwa sebagian kecil saja dari pengguna napza yang mengalami ketergantungan, sehingga membutuhkan seluruh rangkaian layanan dan dukungan yang mereka butuhkan.

Pelarangan napza pada dasarnya menginjak-injak hak asasi manusia dan menurunkan derajat kesehatan masyarakat menjadi pokok perhatian sekunder.

Kunci perubahan adalah berpegang pada data empiris. Mayoritas permintaan napza berasal dari sejumlah kecil pengguna, karenanya memberikan layanan yang baik pada sejumlah kecil masyarakat akan memiliki pengaruh besar. Berinvestasi pada rehabilitasi napza berkualitas baik akan menghasilkan berkali-kali lipat keuntungan; yaitu berkurangnya kriminalitas, penghematan biaya kesehatan, dan penghasilan yang dikumpulkan oleh orang-orang yang kembali produktif. Rehabilitasi semahal apapun tetap akan menghasilkan keuntungan yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.

Perawatan ketergantungan napza yang efektif pada dasarnya ada. Salah satunya adalah terapi substitusi opiat, yaitu peresepan obat berbahan dasar opiat seperti metadon atau buprenorfin untuk menolong pengguna napza mengelola dorongan untuk mengkonsumsi substansi-substansi yang lebih membahayakan. Terapi substitusi opiat, bila tersedia luas, dapat berkontribusi mengurangi tingkat overdosis, penyebab 47.000 kematian di Amerika Serikat pada tahun 2014, berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention). Terapi substitusi opiat bernilai jauh lebih tinggi dari biaya yang dibutuhkan untuk menyediakannya, sebagian keuntungan adalah penghematan biaya kesehatan dan pengurangan dampak buruk penggunaan opiat.

Program penyediaan jarum suntik steril bermanfaat untuk mencegah infeksi HIV dan Hepatitis C; biaya pengobatan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh kedua virus ini sangat mahal. Penyediaan jarum dan alat steril adalah intervensi terbaik dari seluruh intervensi di bidang kesehatan masyarakat yang pernah diteliti. Penyediaan jarum dan alat suntik steril mencegah penyebaran penyakit tanpa mengakibatkan bertambahnya frekuensi penggunaan napza.

Tetapi perawatan napza dan program-program pencegahan yang terbukti aman secara saintifik; seperti program jarum suntik dan alat suntik steril, tidak menjadi pilihan sebagian besar pengguna napza secara global. Hal ini terjadi karena ketidaktersediaan maupun halangan-halangan kebijakan di wilayah-wilayah tertentu. Ketidaktersediaan program jarum suntik steril kerap kali terjadi karena paradigma masyarakat bahwa respon terbaik dalam menghadapi masalah penggunaan napza adalah sanksi pidana, dan bukan pendekatan kesehatan masyarakat.

Pengadilan khusus kasus napza di Amerika Serikat, contohnya, menurut teori didirikan untuk menawarkan alternatif terhadap pemenjaraan dalam bentuk perawatan ketergantungan napza yang disupervisi oleh pengadilan. Tetapi  dalam banyak kasus, hakim tidak memiliki ketrampilan khusus untuk membuat sebuah keputusan medis yang baik, dan beberapa diantara mereka enggan mendengarkan pendapat para ahli kesehatan. Terapi substitusi opiat tidak diizinkan oleh banyak pengadilan khusus napza; sehingga bagi pengguna napza keputusan ini merupakan hilangnya sebuah kesempatan untuk mendapatkan terapi yang bisa jadi paling efektif dari berbagai pilihan lainnya. Beberapa hakim juga mengirim pasien rumah-rumah rehabilitasi ke penjara,  karena dianggap ‘gagal’ menjalani program terapi, walaupun para ahli kesehatan berpendapat bahwa tidak semua orang berhasil menjalani perawatan ketergantungan pada kesempatan pertama.

Kita harus menentang stigma yang menganggap penggunaan napza merupakan  akibat kerusakan moral atau kecacatan karakter.

Kita harus menentang stigma yang menganggap penggunaan napza merupakan  akibat kerusakan moral atau kecacatan karakter. Amerika Serikat menunjukkan bahwa banyak program-program pencegahan yang mengkhotbahkan abstinensia pada anak-anak dan mencoba untuk menakut-nakuti mereka agar menjauh dari napza; tidak memiliki catatan keberhasilan, dan justru membuat napza terlihat lebih menarik untuk dicoba. Program-program pencegahan yang didasarkan atas realita kehidupan anak-anak, dengan menemukan motivasi-motivasi mereka mencoba menggunakan napza dan menolong mereka melindungi diri dari penggunaan bermasalah; memiliki peluang lebih baik untuk berhasil.

Retorika resmi adalah bergeser perlahan dari pelarangan napza total. Kecenderungan untuk tidak berubah merupakan karakter pemerintahan federal Amerika Serikat, artinya perubahan harus didorong dari tingkatan negara bagian dan kota. Salah satu inisiatif yang muncul adalah Diversi yang Diawasi Penegak Hukum (Law Enforcement Assisted Diversion-LEAD), sebuah program yang dimulai di Seattle, yaitu program diversi oleh petugas kepolisian untuk merujuk pengguna napza ke program-program perawatan, ke program asistensi untuk memperoleh pekerjaan, ke program perumahan atau dukungan sosial komunitas, bukan lagi memenjarakan mereka. Albany dan Santa Fe adalah wilayah-wilayah yang kemudian mengadopsi program LEAD.

Penegakan hukum terhadap penggunaan ganja telah diperlunak di beberapa negara bagian, dan sebagian alasan penerapannya adalah berdasarkan kepentingan pendapatan. Negara bagian Colorado, menangguk lebih dari 70 juta dolar AS (sekitar  Rp. 920 juta) dari penjualan ganja pada tahun 2014, melebihi pendapatan dari penjualan alkohol; dan Colorado berhasil mengumpulkan simpanan dana dari mengurangi biaya penegakan hukum dan pemenjaraan. Tekanan ekonomi terus meningkat pada berbagai kebijakan pelarangan napza, dan argumen-argumen berbasis bukti harus diangkat untuk mengadvokasi perubahan kebijakan; untuk mengatasi biaya langsung dan tidak langsung yang luar biasa besar akibat penerapan pelarangan napza. Hal ini bukan saja terjadi di Amerika Serikat, tetapi negara-negara produsen dan negara-negara transit telah lama  diporakporandakan oleh kebijakan pelarangan yang berbuah malapetaka. (sumber: OpenDemocracy/Yvonne Sibuea)

Artikel ini dipublikasikan sebagai bagian kemitraan editorial antara OpenDemocracy dan Centro de Estudios Legales y Sociales  (CELS), sebuah organisasi HAM Argentina dengan agenda luas termasuk mengadvokasi kebijakan napza yang menghormati HAM. Kemitraan ini berkenaan dengan penyelenggaran Sesi Khusus Sidang Umum PBB tentang Napza pada 19-21 April 2016 mendatang.

Joanne Csete adalah pakar kesehatan dan HAM, terutama dalam bidang akses terhadap layanan kesehatan bagi individu yang dikriminalkan, dan hak-hak terkait gender. Ia adalah asisten pengajar di Mailman School of Public HealthColumbia University.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *