Berita Berita Internasional

Alan Mitchell: Lakukan Vasektomi Adalah Bukti Tanggungjawab Saya

Alan Mitchell Foto: Mark Large

Leicester-Beberapa hari setelah proses vasektomi yang dijalaninya, dokter yang menangani Alan Mitchell menelfon untuk mengetahui perkembangan Alan.

Dokter memperingatkan Alan, karena latar belakangnya sebagai pecandu heroin, proses pemulihan pasca operasi mungkin akan lebih lama daripada pasien vasektomi pada umumnya.

‘Kekebalan tubuh saya kurang baik, liver saya rusak setelah terserang Hepatitis C tahun lalu,’ cetus Alan (38). Inilah alasan dokter memperingatkan Alan agar menjaga kondisi tubuhnya.

Tetapi, dokter yang menangani vasektomi Alan mungkin tidak menyadari bahwa proses vasektomi Alan memang sangat “rumit”. Alan belum bercerita bahwa ia dibayar 200 poundsterling setelah menjalani vasektomi.

Alan telah menjadi pecandu heroin pertama di Inggris yang setuju menjalani skema kontroversial yaitu sterilisasi pecandu dengan imbalan uang.

Setelah 16 tahun bergelut dengan kecanduan heroin, Alan menerima sebuah persetujuan kontroversial dengan sebuah lembaga sosial Amerika yang menjanjikan 200 poundsterling untuk melakukan vasektomi.

Minggu ini, berita tentang persetujuan ini menjadi pembicaraan hangat diantara para pejuang hak pecandu NAPZA, yang menganggap bahwa Alan yang sebelumnya menggunakan nama samaran “John”, telah mengalami eksploitasi. Mereka menganggap membayar pecandu NAPZA untuk menjalani sterilisasi adalah perbuatan tak bermoral.

Hari ini, Alan setuju untuk membuka anonimitasnya dan menceritakan keseluruhan kisahnya pada Daily Mail.

Alan sendiri merasa bersalah karena belum memberitahu dokter yang menangani proses vasektominya tentang adanya imbalan sebesar 200 poundstrling yang ia terima.

“Saya merasa sedikit bersalah karena tidak bercerita pada dokter saya. Mungkin kalau ia tahu, ia akan ragu-ragu melakukan vasektomi pada saya. Saya merasa bersalah menempatkan beliau pada posisi tersebut”.

Sampai saat ini, seharusnya adalah kewajiban Barbara Harris sebagai pemilik lembaga sosial Project Prevention untuk mempertanggungjawabkan hal-hal terkait proses persetujuan tersebut. Barbara yang telah mengadopsi empat orang bayi yang mengalami adiksi metadon, meyakini bahwa lembaganya melakukan hal yang sangat bermakna.

Alan mendengar tentang program sterilisasi ini dari internet. Ia mengakui sangat tak sabar untuk dapat segera mengambil bagian dalam program ini. Ia agak terkejut saat diterangkan bahwa ia adalah warga Inggris pertama yang menjalani program ini.

Ketika ditanya motivasi mengikuti program sterilisasi, Alan menjawab, “Karena uang”. “Saya telah memutuskan, memiliki anak akan menjadi sebuah malapetaka bagi saya. Banyak orang yang akan menjual jiwanya demi 200 poundsterling. Dan saya telah melakukannya”.

Alan, telah 18 bulan tidak menggunakan heroin, tetapi ia mengikuti program metadon di sebuah klinik. Ia mengakui, para petugas di klinik metadon di Leicester dimana ia tinggal sangat terkejut mendengar ia dibayar untuk melakukan vasektomi.

Alan sangat yakin ia melakukan hal yang benar untuk hidupnya, bukan hanya karena ia menerima uang.

“Menjalani vasektomi ini adalah hal paling bertanggung jawab yang pernah saya lakukan seumur hidup saya,” cetus Alan.

Alan tidak yakin ia akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. “Kesempatan macam apa yang akan diperoleh anak-anak saya kelak?,” tegas Alan lagi.

“Saya telah berhenti menggunakan heroin selama 18 bulan, tetapi saya masih tak mampu membiayai diri sendiri. Saya tidak memiliki pekerjaan, memiliki catatan kriminal. Kalau saya memiliki anak, saya sendiri tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi…”.

“Saya tahu saya tak mampu. Anak-anak membutuhkan stabilitas. Saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk membenahi kehidupan pribadi saya, entah sampai kapan. Kehidupan saya tidak pernah membanggakan, tetapi saya akan melakukan hal yang benar saat ini. Untuk semua orang.”, demikian pengakuan Alan.(Dm/JennyJohnston/YS)