Advokasi Aktivitas

Aktivis HIV/AIDS Rusia Angkat Isu Substitusi Opiat Pada Kunjungan Duta PBB

Irina Teplinskaya dan Navi Pillay Foto: blog soros

Moskow – Aktivis HIV/AIDS Rusia meminta perwakilan PBB di bidang hak asasi manusia menekan pemerintah Rusia agar melegalkan metadon dan buprenorfin sebagai substitusi heroin.

Navi Pillay, High Commissioner for Human Rights akan bertemu perwakilan para aktivis tersebut pada kunjungannya minggu depan ke Rusia, demikian pernyataan sebuah organisasi kesehatan internasional pada Kamis (10/2).

Pillay akan bertemu Presiden Dmitry Medvedev, para pejabat pemerintah Rusia dan sekitar 60 aktivis HAM selama kunjungan lima harinya ke Moskow.

“Masalah ketidaktersediaan substitusi heroin merupakan krisis kesehatan nasional dan prioritas isu HAM di Rusia yang harus diberi perhatian tertinggi,” tegas analis HAM senior Damon Barrett dari International Harm Reduction Association (IHRA) yang berbasis di London.

IHRA dan 16 organisasi HAM berfokus pada isu HIV telah mengirimkan surat pada Pillay agar membahas masalah HIV/AIDS dan perang terhadap NAPZA, termasuk memperkenalkan manfaat metadon saat bertemu pemerintah Rusia.

Tidak seperti negara-negara lainnya, Rusia menolak mendanai program Harm Reduction seperti layanan alat suntik steril, atau melegalkan metadon sebagai substitusi heroin.

Kementerian Kesehatan Rusia menyatakan bahwa metadon tidak terbukti efektif, sementara seorang dokter terkemuka di Rusia, Gennady Onishchenko menjuluki metadon “jenis narkotik dalam bentuk lain”.

“Fakta bahwa pemerintah Rusia sangat tidak komprehensif membuat kami frustrasi,” ungkap Barrett.

WHO menyatakan ada jutaan orang yang terinfeksi HIV di Rusia, dan berpendapat bahwa metadon sangat penting dalam memerangi epidemi HIV.

Pillay akan menemui aktivis Rusia Irina Teplinskaya dalam kunjungannya, demikian pernyataan yang dikeluarkan Andrey Rylkov Foundation yang berkedudukan di Moskow dimana Teplinskaya bekerja sebagai relawan. Teplinskaya adalah seorang pengguna heroin yang terinfeksi HIV, ia menjadi simbol korban peredaran NAPZA di Rusia.

“Karena tidak ada terapi substitusi opiat di Rusia, orang dengan ketergantungan NAPZA tidak dapat menerima pengobatan HIV. Karena para pengguna NAPZA terpaksa menghabiskan waktu mereka dalam sehari mencari uang untuk membeli NAPZA.Seringkali pengguna NAPZA menempuh cara kriminal untuk mendapatkan uang,” tutur Teplinskaya yang akan mengungkapkan hal ini pada Pillay hari Minggu ini (13/1).(reu/prc)