Advokasi Peristiwa

Akibat Tidak Adanya Catatan Medis, Kasus HIV/AIDS Meningkat di Penjara Nusa Kambangan

Inisiasi Warga Peduli AIDS oleh KPAP Jateng

Semarang – Tujuh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Nusa Kambangan, Jawa Tengah sering mendapatkan limpahan narapidana atau warga binaaan dari lapas lainnya di pulau Jawa, dan 60 persen dari mereka adalah warga binaan yang terlibat dalam kasus narkoba.

Sayangnya hampir seluruh warga binaan yang dipindah ke beberapa Lapas di Nusa Kambangan ini tidak disertai data kesehatan atau catatan medis dari lapas dimana mereka berasal.

“Surat keterangan medis ini penting, untuk mengetahui status kesehatan seseorang apakah mereka terinfeksi HIV/AIDS atau tidak,” ujar Vera, salah seorang relawan HIV/AIDS dalam inisiasi Warga Peduli AIDS (WPA) Propinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Hotel Pandanaran, Semarang, Selasa (4/1).

Catatan medis para warga binaan ini dianggap penting dalam menekan penyebarluasan HIV/AIDS dikalangan warga binaan itu sendiri.

Tetapi karena tidak adanya data maka sudah bisa dipastikan jika penjara merupakan salah satu pusat penyebaran infeksi HIV/AIDS. Akibatnya sudah dapat ditebak jika angka warga binaan yang terinfeksi HIV/AIDS makin meningkat.

“Untuk angka kasus HIV/AIDS di Nusa Kambangan semakin kesini semakin meningkat, meskipun penanganannya  oleh pegawai UPT di Lapas tersebut sudah maksimal, namun masih diperlukan kepedulian dari dinas dan instansi terkait lainnya.” imbuh Vera kepada NapzaIndonesia.com.

Menurut Vera, kepedulian dinas dan instansi terkait ini misalnya Dinas Sosial, untuk mengurus Jaminan Kesehatan Masyarakat (jamkesmas) nya disaat para warga binaan harus melakukan rawat inap ataupun berobat. Sedangkan Dinas Kesehatan, berperan dalam masalah akses kesehatan terutama untuk kasus HIV/AIDS serta TBC dan infeksi lainnya.

“Untuk itu mungkin diperlukan adanya kesinambungan antara Dirjenpas untuk tingkat nasional, maupun kanwil untuk tingkat propinsi dan dinas-dinas terkait lainnya. Mungkin kasus ini tidak hanya terjadi di Nusa Kambangan saja, tetapi bisa juga terjadi di lapas atau UPT di wilayah lainnya.” imbuh Vera.

Selain surat atau catatan medis seseorang, Vera juga mengatakan bahwa di ketujuh lapas di Nusa Kambangan itu hanya ada dua dokter, dimana satu dokter bisa memegang dua hingga tiga lapas. Sementara untuk tenaga perawat di Nusa Kambangan dapat merangkap menjadi tenaga di bidang lainnya.

Vera berharap agar ada koordinasi yang lebih baik dan serius lagi antar instansi pemerintah dalam penanggulangan masalah HIV/AIDS di Indonesia.(Gen)