Berita Berita Nasional Kebijakan Kebijakan Nasional

Akademisi UI Menolak Naskah Akademis RUU Larangan Minuman Beralkohol

Diskusi Regulasi Alkohol_275_157
Diskusi Regulasi Alkohol Foto: Iman Permana

Depok  РKalangan akademisi Universitas Indonesia (UI) mempertanyakan dan menolak Naskah Akademis RUU Larangan Minuman Beralkohol. Naskah Akademis (NA) merupakan syarat mutlak bagi sebuah RUU untuk dibahas oleh DPR. RUU Larangan Minuman Beralkohol sendiri telah menjadi RUU Prioritas Prolegnas 2016.

Sikap ini ditunjukkan oleh dosen filsafat UI dan pendiri Jurnal Perempuan, Gadis Arivia, beserta peneliti antropologi UI, Raymond Menot. Mereka beragumen bahwa konstruksi berpikir (logika) Naskah Akademis berpijak dari logika yang salah dan minim referensi.

“Saya sudah membaca NA ini secara mendalam. Saya menemukan NA hanya punya referensi dari wikipedia dan fatwa MUI. Dalam konteks akademisi, ini bodoh sekali ! Mahasiswa saya saja dilarang untuk mengambil referensi dari wikipedia” tegas Gadis dalam sebuah diskusi bertajuk “Mempertanyakan Regulasi Minol” yang diselenggarakan oleh Student for Liberty Universitas Indonesia.

Raymond mengamini pernyataan koleganya, Gadis. Menurutnya, masalahnya ada pada mindset bukan pada fisik. Ia mengajak setiap orang untuk merevolusi mentalnya secara benar.

“Logika pelarangan tidak masuk akal. Lihat Korea atau Jepang yang punya budaya minum sangat kuat. Mereka tetap produktif dan punya dignity. Artinya, masalahnya bukan di fisik (produk) tetapi otak,” ujarnya.

Akademisi Setuju Pengaturan

Sikap akademisi lebih condong pada konsep pengaturan bukan pelarangan. Masyarakat khususnya adat akan kehilangan entitas dan relasi mereka terhadap sesama dan leluhur. Pelarangan akan mendorong perilaku konsumen yang lebih liar di masa datang.

“Dalam konteks adat, penelitian yang pernah saya lakukan, minol punya fungsi sosial dan relasi kebatinan dengan leluhur. Apabila larangan diberlakukan maka akan ada yang hilang di masyarakat adat. Jadi saya setuju pengaturan,” papar Raymond.

Gadis mendorong mahasiswa dan masyarakat kritis terhadap RUU ini dan menolak konsep larangan karena diskriminatif dan merampas hak dasar manusia.

“Semangat RUU ini sangat agamis, padahal negara konsepnya NKRI bukan agama. Akademisi dan civil society harus menolak RUU ini, sebagai individu kita berhak menolak regulasi yang benar-benar bodoh karena ruang pribadi semakin dalam diatur,” tutupnya. (sumber: Pendidikan Alkohol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *