Berita Berita Internasional

Ajak Pecandu Batasi Kelahiran, Barbara Harris Disamakan Dengan Hitler

Barbara Harris Foto: Camera Press

London-Di Amerika Serikat, proyek kontroversial Barbara Harris telah dibandingkan dengan program Eugenics Nazi, yaitu sebuah program kebijakan sosial sterilisasi paksa yang diperintahkan Hitler untuk diberlakukan pada kelompok masyarakat yang dianggap kurang berharga .

Kebijakan Eugenics Hitler tersebut diberlakukan di AS melalui the Law for the Prevention of Hereditarily Diseased Offsprings yang disahkan pada 14 Juli 1933.  Empat ratus ribu orang di AS telah disterilisasi paksa saat itu.

Walau menghadapi kritik keras pada program sterilisasi pecandu NAPZA yang dipeloporinya, Barbara tidak bergeming.

“Mereka menyamakan saya dengan Hitler,” tutur Barbara. Dalam program sterilisasi pada pecandu NAPZA, lembaga sosial Barbara, Project Prevention menawarkan uang tunai. “Mereka tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Bagi saya, program kami mencegah pelecehan pada anak-anak”, tegas Barbara.

Pada tahun keduabelas sejak diluncurkannya Project Prevention, Barbara telah memberi kompensasi bagi kira-kira 1,300 orang, yang mayoritas adalah perempuan. Barbara memberi kompensasi sebesar 300 dolar AS atau sekitar 2.8 juta rupiah bagi pecandu NAPZA yang bersedia menjalani sterilisasi atau menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang.

Awal tahun 2010, Barbara (57) mengunjungi Inggris, menyusuri jalanan London dan Glasgow untuk menyebarkan brosur berisi promosi program sterilisasi.

Tim Barbara membawa serta foto bayi mungil yang dikelilingi banyak selang, dengan slogan “Setiap bayi berhak bebas dari kecanduan”.

Perjuangan Barbara dimulai saat ia bekerja sebagai pramusaji di California pada 1989. Barbara tinggal dengan suaminya, Smitty, seorang tehnisi bedah medis dan enam orang anak.

Karena menginginkan anak perempuan, pasangan suami istri ini mengadopsi Destiny. Bayi perempuan ini positif kecanduan kokain dan heroin. Ibu kandung Destiny, telah melahirkan empat anak lain yang telah dirawat di institusi khusus karena mengalami kecanduan NAPZA.

Project Prevention kini menerima donasi lebih dari 500 ribu dolar AS atau sekitar 4.4 miliar rupiah per tahun. Keluarga Barbara mengelola lembaga ini dari rumah mereka di North Carolina dan berkeliling AS dalam sebuah karavan bergambar bayi-bayi yang sakit parah.

Setiap pecandu akan disterilkan, dokter akan mengirim konfirmasi pada Barbara sebelum memberikan kompensasi uang tunai.

Apabila seorang perempuan pecandu berusaha untuk berhenti menggunakan NAPZA dan menyesal telah menjalani sterilisasi, Barbara berjanji akan membayar proses menormalkan kembali kesuburan mereka. Seorang pecandu akan mendapat kompensasi sebesar 50 dolar AS atau sekitar 440 ribu rupiah bila memberi referensi pecandu lain untuk mengikuti program sterilisasi.

Barbara menyetujui aborsi, tetapi tidak sebagai metode kontrasepsi bagi pecandu. Barbara mengaku belum pernah menggunakan NAPZA, tetapi ia mengakui saudara laki-lakinya adalah seorang pecandu metamfetamin.

Ia percaya pada Tuhan tetapi ia tidak rutin menghadiri kebaktian di gereja, dan ia menekankan, kerja-kerja sosialnya bukanlah ‘pekerjaan Tuhan’.

Kedatangan Barbara ke Inggris berlatar belakang sebuah donasi dari seorang pendonor anonimus yang memberikan 20 ribu dolar AS atau sekitar 178 juta rupiah. Pendonor tersebut berasal dari Washington DC, dan telah menetap di Inggris selama 10 tahun bersama seorang istri berkebangsaan Inggris dan dua orang anak.

Sekitar 2,000 bayi dilahirkan dari ibu pecandu NAPZA di Inggris, mayoritas mereka menderita penyakit yang membahayakan jiwa. Project Prevention menyatakan telah dihubungi oleh 100 orang pecandu Inggris yang berminat menjalani sterilisasi.(Dm/MichaelSeamark/YS)