Berita Berita Internasional Peristiwa

80% Negara-Negara Dunia Gagal Tangani HIV dan NAPZA

Jenewa – Penyebaran HIV dan AIDS pada jutaan orang dapat diperlambat bila saja pengguna NAPZA suntik diperlakukan sebagai pasien medis, bukan pelaku kriminal, demikian pernyataan Federasi Internasional Palang Merah pada Kamis (25/11).

“Lebih dari 80% negara di dunia telah berpegang pada realita palsu, dengan munculnya fakta bahwa memperlakukan pengguna NAPZA suntik sebagai pelaku kriminal adalah kebijakan yang gagal. Kebijakan kriminalisasi ini telah berkontribusi besar pada penyebaran HIV,” tegas Palang Merah Internasional.

Menurut data Palang Merah Internasional, diperkirakan ada sekitar 16 juta pengguna NAPZA suntik di seluruh dunia, karena dengan penggunaan jarum suntik NAPZA lebih cepat dirasakan efeknya. Menyuntikkan NAPZA telah menjadi tren di tiap benua.

Peluncuran laporan Federasi Internasional Palang Merah setebal 24 halaman, adalah untuk mempromosikan strategi baru untuk negara-negara dalam upaya menghentikan penyebaran virus pada pengguna NAPZA suntik. Laporan ini diluncurkan seminggu sebelum Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember.

Federasi yang diwakili perwakilan nasional Palang Merah dari hampir tiap negara dunia, menganjurkan cara-cara untuk memperkecil risiko penyebaran virus pada pengguna NAPZA suntik lewat media jarum suntik.

Federasi juga menekankan fakta bahwa banyak pengguna NAPZA yang menjual pelayanan seksual untuk membiayai perilaku penggunaan NAPZA. Hal ini secara masif meningkatkan penyebaran HIV pada masyarakat luas.

Lebih dari tiga juta pengguna NAPZA suntik telah terinfeksi HIV, hampir sepersepuluh dari total jumlah 33.3 juta penduduk dunia yang telah terinfeksi HIV.

Di Amerika Serikat, sekitar 56.000 orang, mayoritas adalah pengguna NAPZA suntik, terinfeksi HIV tiap tahunnya. Angka ini stabil selama hampir 10 tahun. Tetapi rata-rata pengguna NAPZA suntik yang terinfeksi tidak menyadarinya, dan tanpa sengaja menyebarkannya pada masyarakat luas (Centers for Disease Control & Prevention).

Selama bertahun-tahun, organisasi peduli HIV/AIDS di AS merekomendasikan tes rutin, terutama untuk pengguna NAPZA suntik dan anggota masyarakat lainnya yang memiliki risiko tinggi. Bila infeksi baru segera dideteksi, pasien HIV dapat ditangani dengan pengobatan yang mampu mencegah terjadinya AIDS.

Sementara, laporan Federasi Internasional Palang Merah menyebutkan, di China, Malaysia, Rusia, Ukraina dan Vietnam telah terjadi “epidemi raksasa” penggunaan NAPZA suntik. Di beberapa negara seperti Rusia, Georgia dan Iran, lebih dari 60% pengguna NAPZA suntik terinfeksi HIV.

Palang Merah menyerukan bahwa meningkatnya infeksi HIV pada pengguna NAPZA suntik adalah “situasi darurat di ranah kesehatan masyarakat”, dan merekomendasikan agar lebih banyak negara yang menyediakan layanan kesehatan seperti terapi substitusi dan jarum suntik steril.

Penelitian Palang Merah secara konsisten menunjukkan bahwa penggunaan jarum suntik steril menurunkan angka transmisi HIV sebesar 42%.

Federasi Palang Merah Internasional memfokuskan perhatian pada pengguna NAPZA suntik karena fakta terkini menunjukkan kegagalan menjangkau pengguna NAPZA suntik selama ini telah merugikan kesehatan mereka juga membahayakan keselamatan publik secara luas.

Sebuah badan AIDS PBB berbasis di Jenewa menyatakan awal minggu ini bahwa laju epidemi AIDS global pada populasi umum telah menurun, dengan penurunan infeksi baru HIV sebesar 20% selama 10 tahun terakhir.

Tetapi badan tersebut juga melaporkan bahwa masih ada 7000 infeksi baru per hari, yang berarti dua orang terinfeksi per satu orang yang memperoleh pengobatan.(AP/YS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *