Berita Nasional

145 Warga Bantul Terjangkit HIV/AIDS

logo AIDS

Bantul – Sebanyak 145 warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam 13 tahun terakhir, yaitu dari 1996 hingga 2009 terjangkit HIV/AIDS.

“Mereka berusia produktif antara 29 hingga 35 tahun,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul Siti Noor Zaenab di Bantul, Selasa (2/9).

Menurut dia, mereka terjangkit HIV/AIDS antara lain dari pergaulan bebas di kalangan anak muda berupa hubungan seks yang berganti-ganti pasangan.

“Para pekerja seks komersial (PSK) di sejumlah pantai wisata di Kabupaten Bantul seperti Pantai Parangtritis, Pandansimo, Parangkusumo, dan Pantai Samas serta para pengguna narkoba memiliki andil besar menularkan penyakit tersebut” katanya.

Ia menyebutkan dari 145 penderita HIV/AIDS itu, 99 orang di antaranya terjangkit HIV, dan 46 orang lainnya penderita AIDS.

“Dari jumlah tersebut, 15 penderita di antaranya meninggal dunia,” katanya.

Siti mengatakan pada 2008 jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Bantul mencapai angka tertinggi yaitu 28 orang, sedangkan pada 2009 hanya sebanyak 11 penderita.

Dia mengatakan 31 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Bantul saat ini masih dirawat di sejumlah rumah sakit di Yogyakarta di antaranya RS Sardjito dan RS PKU Muhammadiyah.

“Kami melakukan pengecekan sekali setiap tahun terhadap penderita yang berisiko tinggi. Perkembangan kesehatan mereka terakhir, kami belum mengetahui,” katanya.

Ia mengatakan mereka diberi obat untuk menanggulangi menurunnya kekebalan tubuh, agar penderita tidak lemah terhadap penyakit lain yang bisa menyebabkan kondisi kesehatan semakin menurun.

Menurut Siti, pendertita AIDS kemungkinan sembuh sangat kecil, karena darahnya sudah mengandung virus yang mematikan, sehingga hanya tergantung kondisi penderita dari waktu ke waktu.

“Sedangkan penderita HIV masih bisa disembuhkan, tergantung kemauan dan kondisi penderita untuk sembuh,” katanya.

Dia menyebutkan dari masa transisi antara penderita HIV menjadi positif AIDS membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun, sehingga penderita mempunyai kesempatan untuk sembuh.

Namun, menurut dia, faktor psikis penderita mempengaruhi kesembuhan dari HIV. “Apabila kondisinya baik, proses untuk sembuh menjadi lebih mudah,” katanya.

Ia mengatakan penderita HIV jangan dikucilkan, atau diperlakukan secara tidak wajar karena bisa memicu kecenderungan tidak sembuh.

Siti menyebutkan rumah sakit di Yogyakarta yang ditunjuk pemerintah untuk menangani penderita HIV/AIDS adalah RSUP Dr Sardjito, RS PKU Muhammadiyah, RS Panti Rapih, dan RS Bethesda. Semua rumah sakit itu fasilitasnya lengkap dan memadai.(Ant)