Kebijakan Daerah

Bali Jadi Model Rehabilitasi Narkoba

logo pemprov baliDenpasar – Provinsi Bali terpilih menjadi lokasi uji coba model rehabilitasi berbasis masyarakat dalam penanggulangan penyalahgunaan nakotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA).

Uji coba rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) itu akan dilakukan melalui kegiatan penelitian, kata Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali, Anak Agung Gede Anom, saat membuka pelatihan uji coba model RBM dalam penanggulangan NAPZA di Kecamatan Denpasar Barat, Rabu.

Kegiatan tersebut akan menerapkan suatu model pengembangan partisipasi masyarakat untuk melakukan aksi atau upaya penanggulangan terhadap penyalahgunaan napza di lingkungan yang rawan.

Anak Agung Gede Anom mengemukakan pihaknya menyambut baik kepercayaan pemerintah pusat yang memilih Bali sebagai lokasi uji coba penanggulangan NAPZA.

Hal itu, kata dia, mengingat di Bali telah terjadi peningkatan terhadap penyalahgunaan NAPZA, selain di sejumlah daerah lainnya di Indonesia.

“Untuk menanggulanginya perlu kepedulian dan peran serta masyarakat secara luas,” ucapnya.

Program RBM diarahkan pada proses memotivasi, meningkatkan partisipasi, kepedulian, dan pemberdayaan pemuka masyarakat dan profesional.

Selain itu, para orang tua dan kelompok masyarakat yang terkait dalam program untuk menolong para remaja guna menciptakan perilaku, nilai-nilai, dan norma, serta keterampilan yang positif.

Dengan cara tersebut, dia berharap para remaja terhindar dari pengaruh napza dan mampu tumbuh dewasa serta menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Pelatihan uji coba RBM itu diikuti oleh 30 orang peserta dari kalangan tokoh masyarakat, agama, pendidikan, adat, tokoh formal, PKK, Karang Taruna, kader wanita, LPMK, PSM, dunia usaha, dan kelompok masyarakat yang peduli.

Kegiatan yang berlangsung tiga hari itu untuk mendukung uji coba RBM, yakni memperoleh model rehabilitasi berbasis masyarakat dalam penanggulangan penyalahgunaan NAPZA yang standar.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Bali Ida Bagus Pancima mengemukakan Denpasar Barat dipilih sebagai lokasi uji coba karena selama ini di wilayah itu ditemukan banyak kasus pengguna NAPZA.

Wilayah tersebut digolongkan sebagai daerah rawan, sementara masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari masih memegang teguh nilai/norma adat dan agama.

Alasan lain pemilihan lokasi itu adalah karena di Denpasar Barat jumlah penduduk remaja/pelajar relatif cukup tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya.

Pemerintah kecamatan bersedia menjadi lokasi uji coba dan bisa bekerja sama dengan tim uji coba nasional maupun provinsi. Apalagi di Denpasar Barat terdapat LS atau organisasi sosial yang peduli pada permasalahan NAPZA.(Ant)